Minggu, 21 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Sehari, 30 Ton Sampah Masuk TPA Srabah

11 Maret 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MELIMPAH: Sejumlah petugas sedang mengangkut sampah di area Jalan Soekarno-Hatta, Jumat (8/3).

MELIMPAH: Sejumlah petugas sedang mengangkut sampah di area Jalan Soekarno-Hatta, Jumat (8/3). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Setiap tahun, miliaran anggaran APBD sengaja digelontorkan pemerintah Kota Keripik Tempe untuk menanggulangi masalah pengelolaan sampah. Tercatat, tak kurang dari 1 miliar setahun hanya untuk mobilitas kendaraan pengangkut sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Srabah, Kecamatan Bendungan.

Joko Wahono, Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) menyebut, ada 24 ton sampah yang harus diangkut setiap hari dari wilayah perkotaan saja. Sedangkan untuk area di luar kecamatan kota, pengangkutan sampah dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu. “Kalau dirata-rata, total tiap hari ada sekitar 30 ton sampah yang ada di Trenggalek ini," katanya.

Sementara ini, TPA Srabah Bendungan masih menjadi tumpuan utama pengelolaan sampah di Kota Keripik Tempe. Beberapa waktu lalu, memang ada wacana untuk membuat TPA baru, yakni di wilayah Kecamatan Munjungan dan Panggul. Sayang, ada beberapa perubahan sehingga sarana pengelolaan sampah tersebut belum bisa diwujudkan hingga kini.

Maklum, sarana pengelolaan sampah ini ada di wilayah Perhutani. Sebelum direncanakan, area tersebut bisa dimanfaatkan dengan metode tukar guling lahan. Namun, kini terdapat regulasi baru bisa dimanfaatkan dengan sistem pinjam pakai kawasan hutan. “Saya masih baru di sini (DPKPLH, Red). Jadi bagaimana cerita secara lengkapnya tidak begitu paham,” tuturnya.

Karena ada perubahan ini, pihaknya juga sekaligus melakukan revisi untuk konsep sarana pengelolaan sampah. Ditargetkan, tahun ini detail engineering design (DED) rampung dikerjakan sembari menunggu seabrek perizinan yang harus dipenuhi untuk pinjam pakai kawasan hutan.

Alhasil, pengelolaan sampah masih tersentral di TPA Srabah. Joko, sapaannya mengungkapkan, anggaran yang dikeluarkan untuk mobilitas atau pengiriman sampah tahun ini sekitar Rp 1 miliar. Itu hanya untuk membawa sampah dari 14 kecamatan ke TPA Srabah. “Itu untuk bahan bakar dan petugas,” ungkapnya.

Sedangkan untuk petugas lain, semisal tenaga penunjang pengelolaan sampah, setidaknya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar. Ttercatat ada 183 orang petugas, serta 116 orang tenaga penunjang sisanya merupakan pegawai. Mereka ini yang biasanya melakukan pembersihan dan menyapu di jalan-jalan protokol setiap hari.

Meski setiap hari ada puluhan ton masuk di TPA Srabah, Joko meyakini bahwa lokasi tersebut masih cukup aman. Artinya, hingga beberapa tahun ke depan, TPA Srabah tidak akan overload. Sebab, ada proses pengolahan sampah maupun area TPA Srabah yang cukup luas. “Minimal 10 tahun ke depan masih kuat. Kita ada pengelolaan sampah di TPA,” akunya. 

(rt/muh/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia