Selasa, 12 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Rakit Alat Fogging Sendiri karena DBD Masih Menjangkit

11 Maret 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MANDIRI: Tampak pemuda di Desa/Kecamatan Ngunut melakukan fogging dari alat yang diciptakan sendiri untuk membantu warga.

MANDIRI: Tampak pemuda di Desa/Kecamatan Ngunut melakukan fogging dari alat yang diciptakan sendiri untuk membantu warga. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG – Tak kunjung ada penanganan dari Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung di Desa/Kecamatan Ngunut. Membuat warga setempat merakit alat fogging sendiri untuk menanggulangi penyebaran demam berdarah dengue (DBD).

Alat fogging itu dirakit menggunakan diesel oleh pemuda di lingkungan IX desa setempat. “Perakitan mesin fogging darurat berawal dari keresahan warga. Lantaran harus menunggu adanya orang yang terjangkit DBD, baru ada tindakan pengasapan,” terang warga setempat, sekaligus ketua kelompok pemuda Garuda Emas, Kriston Junaedi, Minggu (10/3).

Ketika sudah ada satu atau dua orang terjangkit DBD, pengalaman selama ini masih menunggu prosedur yang biasanya butuh waktu lama. Akibatnya, warga selalu resah dengan maraknya DBD. “Kondisi itu yang menggerakkan hati kelompok pemuda Garuda Emas untuk merakit mesin fogging,” ujarnya.

Dilihat dari modelnya, mesin fogging darurat punya bentuk berbeda dengan mesin fogging pada umumnya. Biasanya alat fogging punya panjang kurang lebih satu meter dan diikatkan di pundak. Namun, mesin fogging rakitan tak sampai satu meter. Bahkan, cara membawanya hanya perlu didorong atau ditarik.

Meski model berbeda, fungsi tetap sama seperti mesin fogging lainnya. Termasuk kandungan kimia dalam alat fogging darurat itu pun sama dengan standar internasional. “Unsur malation 5 persen dan solar 95 persen, itu ukuran internasional,” tandasnya.

Rodex, sapaan akrab Kriston Junaedi mengungkapkan, fogging dilakukan tak sebatas di rumah warga, tapi tempat-tempat lain yang bisa jadi sarang nyamuk DBD. Seperti semak belukar, gudang, dan barang-barang tak terpakai. “Berbeda dengan cara fogging pada umumnya, yang terbatas dalam rumah,” ujarnya.

Dia mengaku, mesin fogging darurat kini masih tahap pengembangan. Meski begitu, hasil fogging darurat ternyata signifikan. Karena setelah fogging, populasi nyamuk berkurang. “Meski berkurang, kegiatan ini sebatas agenda tahunan. Jadi tak tiap hari dilakukan fogging. Selain itu, fogging juga atas permintaan warga,” jelasnya.

Operator Kelompok Pemuda Garuda Emas, Ari Garuda mengaku sudah sekitar tujuh kali lakukan fogging. Dengan total rumah yang di-fogging sudah ratusan rumah, belum termasuk semak-semak dan tempat lainnya. “Hari ini (kemarin, Red) sekitar 70 rumah warga di-fogging. Fogging dalam satu hari, setidaknya perlu 9-10 liter obat campuran malation dengan solar dan 5-6 liter bensin,” jelasnya.

Kendati demikian, jasa fogging dari kelompok pemuda tak memungut biaya. Pasalnya, tujuan utama adalah bakti sosial. Warga yang mendapat jasanya hanya memberi dana suka rela. “Dana terkumpul diputar untuk beli obat, solar, bensin, dan konsumsi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua RT Dusun Olak-Alung, Desa/Kecamatan Ngunut, Wasis mengapresiasi kegiatan bakti sosial yang dilakukan kelompok pemuda Garuda Emas. Sebab, kegiatan fogging salah satu sarana pencegahan penyakit DBD terhadap warga. “Saya antusias dengan fogging yang mereka lakukan, terlebih tujuan utama adalah bakti sosial. Jadi tak dipatok harga,” tandasnya.

Warga Dusun Olak-Alung, Desa/Kecamatan Ngunut, Ocha mengatakan, fogging darurat yang dilakukan kelompok pemuda begitu bermanfaat karena bisa menambah kemanan keluarga dengan jauh dari penyakit DBD. “Saya kira sangat bermanfaat. Jadi tak perlu menunggu lama lagi dilakukan fogging,” ungkapnya.

(rt/pur/did/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia