Selasa, 16 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Polisi Kawal Satu Siswa SMKN 1 Trenggalek Ikut USBN-BK, Kenapa ?

14 Maret 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

TERUS DIPANTAU: Kepala SMKN 1 Trenggalek memantau peserta yang ikut USBN yang harus mendapatkan pengawalan polisi.

TERUS DIPANTAU: Kepala SMKN 1 Trenggalek memantau peserta yang ikut USBN yang harus mendapatkan pengawalan polisi. (ZAKI JAZAI/ RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM)

 TRENGGALEK - Pemandangan berbeda terlihat pada pelaksanaan ujian sekolah berstandar nasional berbasis komputer (USBN-BK) di SMKN 1 Trenggalek. Kendati keseluruhan pelaksanaan berjalan sukses pada sekolah yang berada di Jalan Brigjen Sutran Kecamatan Trenggalek tersebut, terdapat seorang siswa harus mendapatkan pengawalan ketat polisi.

Diketahui, siswa dari wilayah Kecamatan Tugu tersebut terlibat kasus penganiayaan secara bersama-sama di wilayah Desa Pangkal, Kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo, Kamis (7/2) lalu. Semenjak saat itu, siswa dengan inisial IJ harus di ruang tahanan Mapolsek Sawo untuk menyelesaikan kasus hukumnya. “Memang benar ada siswa kami yang harus berurusan dengan masalah hukum. Namun haknya mengikuti berbagai ujian sebagai syarat kelulusan tidak boleh hilang,” ungkap Kepala SMKN 1 Trenggalek, Suharyati. Senin (12/3).

Dia melanjutkan, setelah diketahui ada peserta didik yang sedang menjalani masa penahanan, sebelum USBN berlangsung, sekolah berkoordinasi dengan pihak terkait. Tujuannya, agar khusus siswa tersebut diberi keringanan ketika menjalani proses hukum yang masih berjalan. Yaitu tetap diperbolehkan mengikuti berbagai ujian sebagai salah satu syarat kelulusan. “Karena itu, ketika mengikuti USBN ini, siswa tersebut harus mendapat pengawalan dari polisi,” imbuhnya.

Sedangkan terkait hak-hak atau dan kewajiban yang diberikan sekolah pada siswa tersebut, tidak ada yang istimewa dengan siswa lainnya yang menjadi peserta USBN. Yaitu ketika melaksanakan USBN, tetap datang tepat waktu kendati dengan pengawalan hingga masuk ruangan untuk menyelesaikan soal ujian. Jika sudah selesai, siswa bersangkutan dijemput guru yang bertugas yang nanti kembali diserahkan ke polisi yang mengantarkannya pergi ke sekolah.

Hal tersebut juga akan terus dilakukan ketika pelaksanaan ujian lainnya sebagai syarat kelulusan, seperti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) yang dijadwalkan berlangsung akhir Maret ini. “Semoga saja, kendati harus menjalani proses hukum dia (IJ, Red) bisa menyelesaikan seluruh proses ujian ini dan dinyatakan lulus,” jelas Suharyati.

(rt/zak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia