Senin, 21 Oct 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Dua Pekan Pascabanjir, Begini Aktivitas Para Petani di Desa Waung

18 Maret 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BENAHI : Tanggul yang jebol di Desa Waung, Kecamatan Tulungagung, akibat banjir awal Maret lalu, kini sudah ditutup.

BENAHI : Tanggul yang jebol di Desa Waung, Kecamatan Tulungagung, akibat banjir awal Maret lalu, kini sudah ditutup. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG- Dua pekan setelah banjir menerjang Dusun Krajan dan Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, kini kondisi sudah mulai normal. Para petani setempat kembali beraktivitas di lahan masing-masing.

Mereka sudah melupakan kejadian bencana dan merelakan tanaman yang terendam banjir. “Lahan melon seluas 60 ru harus diikhlaskan. Padahal, buah melon sudah berukuran sekepal tangan dan kurang dari dua minggu sudah siap panen. Sudah tak bisa panen, tapi mau gimana memang bencana,” terang warga setempat, Solikin Minggu (17/3).

Dia kini semangat untuk bercocok tanan setelah warga menutup tanggul yang jebol. Aktivitasnya, sekarang memperbaiki tanah untuk ditanam melon kembali.  “Hari ini (kemarin,Red) hari kedua pembenahan tanah. Butuh dua hari lagi, agar tanah siap ditanami bibit melon. Setelah dibenahi struktur tanah, lantas  diberi benih dan pemupukkan,” ujarnya.

Menanam melon hanya perlu ketelatenan, agar hasilkan produksi unggul. Pasalnya, perlu perawatan lebih untuk memantau kebun melon terbebas serangan bakteri dan hama..

Sedangkan lama buah melon bisa dipanen, perlu sekitar 47 hari. Namun, rentang waktu itu juga perlu pemupukkan dan kurang lebih butuh satu kuintal pupuk. “Pupuknya phonska, ZA, dan TSP,” katanya.

Warga lainnya, Yudi Prasetya mengaku, penutupan tanggul jebol sudah membuat petani tenang. Genangan air merendam rumah dan sawah sudah kering, hanya sawahnya takkan bisa produksi maksimal. “Sawah seluas 150 ru terendam air dengan padi berusia 90 hari, artinya lekas jebul tapi banyak yang kopong,” ungkap. Kendati demikian, masih ada harapan. Padi yang layu setidaknya 60 persen bisa produksi. “Kalau berharap 100 persen, sudah tak mungkin lagi,” ujarnya.

(rt/pur/did/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia