Senin, 16 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Penyandang Disabilitas Diusir Oknum Dokter Saat Hendak Urus Suket

19 Maret 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

SABAR YA: Kondisi pasien rawat jalan di Poli Umum RSUD dr Soedomo Trenggalek yang Sabtu (16/3) terjadi aksi pengusiran kepada seorang pendamping disabilitas.

SABAR YA: Kondisi pasien rawat jalan di Poli Umum RSUD dr Soedomo Trenggalek yang Sabtu (16/3) terjadi aksi pengusiran kepada seorang pendamping disabilitas. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

 TRENGGALEK- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek harus segera mengevaluasi kinerja pegawai di RSUD dr Soedomo Trenggalek yang mengusir penyandang disabilitas ketika minta surat disabilitas di poli umum. Informasi yang diterima wartawan radartulungagung.id ada oknum dokter di rumah sakit plat merah tersebut mengusir pasien disabilitas pada Sabtu (16/3) lalu.  

Diduga, aksi pengusiran itu terkait perbedaan persepsi ketika pendamping disabilitas tersebut mengantarkan dua anak asuhnya, yang salah satunya mengalami cerebral palsy (CP) untuk mencari surat keterangan (suket) disabilitas. “Awalnya sempat ditolak, dengan alasan pihak rumah sakit tidak memiliki form suket, namun setelah saya beri tahu contohnya, langsung dibuatkan,” ungkap pendamping disabilitas Tarya Ningsih Senin (18/3).

Dia melanjutkan, kala itu sempat terjadi perdebatan ketika pihak pendamping menyodorkan form tersebut ke oknum dokter di poli umum. Di mana, penyakit yang diderita disabilitas tersebut yaitu CP yang diartikan sebagai lumpuh layu. Dari situlah dirinya meminta sang dokter untuk menganulir penyebutan tersebut. Mengingat disabilitas fisik CP berbeda dengan disabilitas fisik lumpuh layu. “Semula setelah memberi penjelasan, dokter itu mengalah dan sayapun diminta untuk meminta form lagi diresepsionis dan kembali ke poli umum untuk menemui dokter itu,” imbuhnya.

Saat itulah perlakuan yang diterima dirinya dan penyandang disabilitas lebih buruk lagi. Sebab, dokter bersangkutan tetap mengidentifikasikan sebagai lumpuh layu, hingga setelah melalui perdebatan, akhirnya dokter tersebut menghapus pemilihan itu dan menggantinya dengan CP. Bukan hanya itu, ketika mengisi kolom lain, dokter bersangkutan mencentang bahwa anak disabilitas bersangkutan juga mengalami disabilitas sensorik yaitu tuna wicara.

Dengan pemberian centang tersebut, berarti disabilitas tersebut termasuk double handicap yang menyalahi aturan. Di mana kategori CP merupakan sekelompok masalah yang mempengaruhi gerakan tubuh dan postur tubuh, dan tidak ada lagi tambahan lain. Dari situlah terjadi perdebatan panjang, sebab sang dokter menganggap dia yang lebih mengetahuinya, hingga terjadilah pengusiran dari ruangan dokter tersebut. “Teman disabilitas saya ini mencari surat keterangan disabilitas untuk melamar kerja, sehingga jika semuanya dicentang berarti tidak bisa bekerja. Syukurlah, setelah melalui perdebatan yang panjang dan mengadu kepada kepala bidang pelayanan medis saya berhasil mendapatkan suket dari dokter lain,” jelas Tarya.

(rt/dre/zak/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia