Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Reaksi Direktur RSUD Soedomo Terkait Dokter Usir Pasien Disabilitas

20 Maret 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

SABAR YA : Kondisi pasien rawat jalan di Poli Umum RSUD dr Soedomo Trenggalek yang Sabtu kemarin terjadi aksi pengusiran kepada seorang pendamping disabilitas.

SABAR YA : Kondisi pasien rawat jalan di Poli Umum RSUD dr Soedomo Trenggalek yang Sabtu kemarin terjadi aksi pengusiran kepada seorang pendamping disabilitas. (ZAKI JAZAI/ RADARTULUNAGUNG.ID)

 TRENGGALEK- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek harus segera mengevaluasi kinerja pegawai di RSUD dr Soedomo Trenggalek yang mengusir penyandang disabilitas ketika minta surat disabilitas di poli umum. Informasi yang diterima wartawan radartulunggung.id, ada oknum dokter di rumah sakit plat merah tersebut mengusir pasien disabilitas pada Sabtu (16/3) lalu.  

Diduga, aksi pengusiran itu terkait perbedaan persepsi ketika pendamping disabilitas tersebut mengantarkan dua anak asuhnya, yang salah satunya mengalami cerebral palsy (CP) untuk mencari surat keterangan (suket) disabilitas.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD dr Soeodmo Trenggalek Saeroni mengatakan, sebenarnya hal yang terjadi tersebut merupakan kesalahpahaman antara dokter yang bertugas, dengan pendamping disabilitas tersebut. RSUD sebelumnya belum pernah mengeluarkan suket disabilitas tersebut, sehingga belum memiliki form atau blangko terkait suket tersebut. “Dari situ karena pendamping bersangkutan membawa contohnya, maka kami pun langsung mengakomodir agar blangko surat yang dimaksud dicetak,” katanya.

Dia melanjutkan, karena itulah terjadi kesalahpahaman antara dokter dan pendamping bersangkutan terkait cara pengisian blangko tersebut. Sebab pengantar tidak diterima jika disabilitas bersangkutan dianggap mengalami gangguan sensorik yaitu tuna wicara. Namun dokter bersangkutan menganggapnya ada gangguan bicara, mengingat cara bicara disabilitas yang bersangkutan kurang lancar. “Karena adu argument tersebut, terjadilah percecokan hingga ada pembentakan dan pengusiran pendamping,” ungkapnya.

Dari situ, setelah menerima laporan tersebut saat itu juga (Sabtu, 16/3, Red) RSUD langsung melayangkan surat panggilan kepada dokter bersangkutan. Pemanggilan tersebut dilakukan untuk mengklarifikasi terkait kejadian apa yang sebenarnya pada kemarin (18/3). Bukan hanya sang dokter, proses pengklarifikasian tersebut juga dilakukan oleh perawat yang mendampingi dokter untuk pemeriksaan ketika hal tersebut terjadi. Dari hasil klarifikasi tersebut, dibenarkan terjadi peristiwa percecokan karena salah presepsi yang membuat sang dokter emosi dan mengusir pengantar disabilitas tersebut.

Berbekal hasil klarifikasi tersebut, saat ini RSUD mengambil tindakan sementara waktu dokter bersangkutan dipindah tugaskan, kebagian administrasi. Hal itu dilakukan sambil RSUD melakukan klarifikasi tambahan untuk mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya, hingga diketahui siapa yang memicu permasalahan. Sehingga jika yang memicu permasalahan tersebut memang dokter yang bertugas, maka RSUD menyarankan agar dokter tersebut meminta maaf. “Semoga saja hal ini tidak terjadi lagi, karena diapa-apakan satu tindakan yang kurang baik oleh oknum pegawai ini berdampak pada organisasi RSUD pada keseluruhan hingga pemkab. Maka kami sarankan kepada dokter itu harus berjiwa besar,” jelasnya.

(rt/zak/did/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia