Kamis, 25 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Blitar

Pemkab Peduli Penyandang Disabilitas, Gelar Diseminasi

Dan Pembekalan Keterampilan Teknis Pendamping

22 Maret 2019, 12: 51: 59 WIB | editor : Retta wulansari

UNIK: Wabup Marhaenis Urip Widodo menyempatkan diri untuk membuat batik ciprat.

UNIK: Wabup Marhaenis Urip Widodo menyempatkan diri untuk membuat batik ciprat. (SYAIFUL ANWAR/RADAR BLITAR)

BLITAR KABUPATEN - Kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar kepada penyandang disabilitas atau difabel benar-benar tinggi. Itu ditunjukkan dengan membuat kebijakan dan program bagi kaum difabel.

Untuk mengimplemantasikan program itu, tahun ini Pemkab Blitar menggelar diseminasi dan pembekalan keterampilan teknis pendamping. Yakni bagi pendamping pelayanan sheltered workshop peduli tahun 2019, Kamis (21/3).

Kegiatan yang digelar di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, dibuka oleh Wakil Bupati (Wabup) Marhaenis Urip Widodo dan dihadiri oleh kepala dinas sosial Provinsi Jawa Timur; kepala balai besar rehabilitasi sosial penyandang disabilitas intelektual (BBRSPDI); kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan puluhan pendamping yang menjadi peserta kegiatan yang berasal dari 11 Kabupaten di Jawa Tengah, DIJ (Jogjakarta), dan Jawa Timur; kader pendamping SWP; serta difabel.

Wabup Marhaenis UW mengatakan, sesuai dengan tema “Pahami Kemampuan Kami, Bukan Disabilitas Kami”. Hal ini membuktikan penyandang disabilitas tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika diberikan kesempatan dan diarahkan dengan baik dan benar, kaum difabel bisa berkarya dan mandiri. Program dibuat selain untuk menyelesaikan masalah sosial, juga memberdayakan penyandang disabilitas. “Hal inilah yang mendasari Pemkab Blitar menggelar kegiatan ini,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya terus membangun shelter workshop peduli. Kini sudah ada 13 shelter workshop peduli. Ke depan di Kabupaten Blitar ditargetkan ada sekitar 456 shelter workshop peduli. Keberadaan shelter nantinya digunakan untuk memberikan pelatihan dan keterampilan bagi penyandang disabilitas. “Setidaknya dalam satu lokasi atau wilayah ada lebih dari sepuluh penyandang disabilitas. Hal ini sebenarnya sudah masuk masalah sosial sehingga harus ditangani bersama,” ujarnya.

Tidak hanya memberikan pelatihan bagi pendamping dan membangun shelter workshop peduli, pemkab juga menyediakan peralatan yang menunjang keterampilan penyandang disabilitas. Hal ini dimaksudkan agar penyandang disabilitas bisa berkarya dalam workshop dan memiliki penghasilan dan bisa mandiri. “Ada dua poin positif yang diterima Pemkab Blitar dalam kegiatan ini. Yakni bisa menyelesaikan masalah sosial dan bisa memberdayakan kaum difabel sehingga mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” jlentreh-nya.

Hasil karya penyandang disabilitas juga tidak kalah dengan hasil karya orang normal lainnya. Dia mencontohkan, batik ciprat merupakan salah satu karya penyandang disabilitas yang sekarang ini berkembang sedemikian pesat. “Kualitas batiknya sangat bagus sehingga batik ciprat banyak peminatnya, tidak hanya di Kabupaten Blitar, tetapi juga luar daerah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, bimbingan teknis (bimtek) digelar di Kabupaten Blitar karena merupakan salah satu atau yang pertama melaksanakan replikasi dari inovasi melalui harapan mulya resap ombo. “Dengan adanya shelter workshop di Kabupaten Blitar, kita mampu menyabet penghargaan otonomi award yang ada di Jawa Timur,” imbuhnya.

(rt/abd/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia