Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Menelisik Kerumitan Proses Pembuatan Wayang Kulit

29 Maret 2019, 07: 55: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TELATEN: Lamuni sedang menatah pola yang sebelumnya sudah digambar di atas kulit kambing.

TELATEN: Lamuni sedang menatah pola yang sebelumnya sudah digambar di atas kulit kambing. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

TULUNGAGUNG - Arus hiburan modernis yang cukup santer perlahan meminggirkan produk seni dan budaya lokal. Salah satunya wayang kulit. Menurut Lamuni, seorang tukang tatah wayang kulit, membuat wayang kulit cukup lama. Hal itu membutuhkan ketelatenan. Bahkan, hanya untuk wayang ukuran standard. Kalau wayangan berukuran besar, seperti gunungan, Werkudara itu membutuhkan waktu lebih dari seminggu. Lamanya membuat wayang itu, kata Lamuni, ada banyak rangkaian proses. Yakni mulai dari membuat pola, kemudian mengukir dengan tatah.

Tatah yang digunakan kurang lebih ada 22 tatah. Setelah penatahan selesai, dilanjutkan pewarnaan dengan mengecat dengan cat khusus. Bahannya, untuk wayang yang digunakan dalang menggunakan bahan dari kulit kerbau. Sedangkan, wayang untuk hiasan dinding bisa menggunakan kulit kambing atau selera pemesan. "Proses paling rumit dan butuh waktu lama itu dari penatahan ini," tegasnya

Melihat dari prosesnya, tak heran harga satuan wayang tak murah. Yakni mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta. Apalagi juga memakai gapit dari tanduk kerbau asli yang memiliki kelebihan kuat, elastic, dan tahan lama. Sedangkan, wayang hiasan dinding sekitar Rp 1 juta. Dia mengatakan, produknya pernah ikut pameran desa. Tak heran, karyanya juga menjadi potensi desa yang berbasis budaya. Juga berkontribusi melestarikan budaya. "Pernah sih ikut pameran. Itu membuat karyaku lebih dikenal meskipun dampak pemasaran tak begitu signifikan," tandasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia