Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Pengunjung Berkurang, Ini yang Harus Dipunya Wisata Trenggalek

29 Maret 2019, 21: 20: 59 WIB | editor : Retta wulansari

RENCANA HARUS MATANG: Salah satu destinasi wisata di Pantai Blado yang kini tengah dikembangkan agar layak jual.

RENCANA HARUS MATANG: Salah satu destinasi wisata di Pantai Blado yang kini tengah dikembangkan agar layak jual. (AGUS DWIYONO/RATU)

TRENGGALEK - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek harus terus membina kelompok sadar wisata (pokdarwis) di bawah naungannya. Pasalnya, hingga kini pengelolaan lokasi wisata yang dilakukan cenderung tidak memiliki konsep ke depan.

Alhasil, kendati pada awal pembukaan lokasi tersebut ramai dikunjungi, seiring berjalannya waktu akan ditinggalkan wisatawan. Mengingat tata kelola sebagian tempat wisata tersebut tidak jelas sehingga bisa berakibat sebagian wisatawan menjadi jenuh berkunjung. ”Makanya setiap kali melakukan pembinaan pada pokdarwis di sini (Trenggalek, Red), yang selalu kami tekankan adalah perihal tata kelola,” ungkap Pembina East Java Ecotaurism Forum (EJEF), Trisno Sudigdo.

Dia melanjutkan, tidak adanya tata kelola yang jelas tersebut membuat sebagian lokasi wisata tidak memiliki standar layak jual. Dari situ, disarankan agar pokdarwis di wilayah Trenggalek harus saling berbicara dan beradu pikiran terkait tata kelola wisata tersebut agar berstandar layak jual. “Jadi, tidak boleh pokdarwis di Trenggalek berbicara dan berpikir sendiri-sendiri. Maka pertanyaannya, pernah tidak semua lini tersebut duduk bareng untuk berpikir dan berbicara terkait hal itu?” katanya.

Dari situ, guna mewujudkan tujuan besar tersebut, harus ada kebijakan dari pemerintah kabupaten (pemkab) yang berstandar dengan menitikberatkan kearifan lokal. Nanti akan muncul landmark Trenggalek yang pada akhirnya akan memunculkan pula city branding. Jika ada wisatawan, khususnya dari luar daerah bahkan luar negeri yang datang, sudah mengenal Trenggalek dan tahu di mana lokasi wisata yang tepat hingga pusat oleh-oleh yang nantinya dibeli.

Menyikapi itu, diharapkan pemerintah jangan hanya memikirkan pengembangan wisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Sebab, yang terpenting bagaimana bisa maju melalui pariwisata, dengan melihat pendapatan masyarakat naik, lebih sejahtera, yang otomatis akan menaikkan PAD. “Berdasarkan pengamatan saya, Trenggalek belum layak jual karena masih bicara potensi karena produknya belum ada. Kalaupun ada, belum layak jual karena masih parsial destinasi-destinasinya,” imbuh Trisno. 

(rt/zak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia