Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Akhir Maret, Harga Ayam Potong Turun Ini Alasannya

31 Maret 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

HARGA TURUN: Mujiono memotong ayam yang dipesan pembeli di Pasar Ngemplak, Jumat (29/3).

HARGA TURUN: Mujiono memotong ayam yang dipesan pembeli di Pasar Ngemplak, Jumat (29/3). (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG – Harga ayam potong hidup memang mengalami peningkatan. Tapi ternyata kondisi tersebut tidak berimbas pada harga ayam di Pasar Ngemplak. Kini harga ayam potong di-banderol Rp 25 ribu per kilogram (kg).

Menurut pedagang ayam, Tarti, memang satu minggu belakang harga daging ayam potong turun. Namun, ini (penurunan, Red) adalah fase yang biasa terjadi di akhir Maret. Semula Rp 28.500, kini menjadi Rp 25 ribu. Terjadi penurunan Rp 3.500. “Biasanya akhir Maret itu harga ayam turun. Namun kembali naik awal April,” tandas warga Dusun Kedungsingkal, Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, saat ditemui di pasar Ngemplak Kamis (28/3).

Sedangkan minat pembeli, dia melanjutkan, beberapa hari terakhir tergolong normal. Pasalnya, setiap hari sekitar 40 kg habis terjual. “Biasanya stok ayam pedagang sekitar 50 kilogram,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang ayam sayur lainnya, Mujiono. Dia mengatakan, harga ayam sayur turun lagi, sebelumnya Rp 25 ribu menjadi Rp 23 ribu. Sedangkan harga turun sudah terjadi beberapa hari lalu, terkadang turun Rp 500 atau Rp 1.000. “Harga ayam turun drastis,” katanya, Jumat (29/3).

Pedagang ayam sayur di pasar Dusun Maron, Desa/Kecamatan Boyolangu, Feri mengungkapkan harga ayam turun semenjak delapan hari lalu. Harga terus turun dari Rp 28 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 26 ribu per kilogram. “Penurunan selama delapan hari berturut-turut jarang terjadi. Namun, biasanya harga kembali naik pada awal maret,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung Didik Sulaksono Putro mengatakan, di Kota Marmer belum menunjukkan penurunan harga ayam secara signifikan. Itu ditinjau dari data yang dihimpun disperindag, harga ayam relatif Rp 30 ribu sampai Rp 31 ribu. “Kestabilan harga dipengaruhi permintaan dan stok daging yang masih stabil,” tandasnya.

Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung, Mahmilupita Handayani juga membenarkan jika tidak terjadi penurunan harga ayam jenis boiler di kota ini. Pasalnya, sebagian besar peternak sudah tergabung dalam mitra. Sedangkan mitra berguna untuk menjaga kestabilan antara produksi dengan permintaan ayam di pasaran. “Demand supply di Tulungagung masih terkendali,” tandasnya.

Wanita berhijab itu melanjutkan, persoalan di Jawa Barat maupun Jawa Tengah lantaran peternak ayam banyak yang usaha mandiri. Artinya, banyak yang tak bergabung dengan mitra. Jadi produksi ayam melebihi permintaan pasar. Tak pelak, menimbulkan penurunan harga ayam di pasaran.

(rt/pur/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia