Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon-featured
Sports

Voli Semakin di Hati, Bangun Mental Sebelum Tanding

05 April 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

SEMANGAT: Satria memainkan bola ketika pemanasan sebelum bertanding.

SEMANGAT: Satria memainkan bola ketika pemanasan sebelum bertanding. (SATRIA FOR RADAR BLITAR)

BLITAR - Bagi Satria Rahadi, voli sudah bukan hal baru. Warga RT 02/RW 01 Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar itu sejak SMA sudah menekuni voli. Kini dia semakin getol dan meluangkan waktu di tengah kesibukan sebagai guru olahraga di SMAN 1 Talun.

Pada 2004, Satria menceritakan jika mulai serius berlatih voli. Kala itu dia duduk di bangku kelas XI. Beberapa pertandingan mulai diikuti. Hal itu juga berlanjut ketika masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Satria mengaku, kecintaannya pada voli tak lepas dari kondisi keluarga. Sang ayah, Wahyudi, banyak memberikan ilmu terkait bagaimana bermain dan menjadi atlet voli profesional.

Itu ditambah dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Sebagian besar anak muda di sana suka voli. Lapangan sederhana di kampung juga tersedia dan dipakai untuk berlatih setiap sore. Meski awalnya kurang bagus bermain, namun lama-lama berkembang karena kerap berlatih. “Karena pengaruh lingkungan dan keluarga, saya jadi suka voli,” ungkapnya kemarin (3/4).

Bapak satu anak itu mengaku kerap mengikuti berbagai kompetisi antarklub. Prestasi pun berhasil diraih. Beberapa di antaranya juara I Wlingi Cup 2019, juara I Jari Cup 2019, dan sebagainya. Dia tergabung dalam tim Panji Laras yang juga berasal dari tempat tinggalnya.

Bagaimana dengan jadwal latihan? Satria menyatakan bukan masalah. Dia selalu menyempatkan berlatih. Tentu saja, itu di luar jadwal sekolah karena dia seorang guru. “Biasanya latihan sore. Kalau pertandingan lebih banyak malam,” ujarnya.

Persiapan lain yang biasa dilakukan sebelum pertandingan yakni membangun mental. Misalnya dengan berlatih setiap sore. Dengan begitu, ada interaksi antar pemain. Dalam interaksi itu, bisa saling membantu jika ada permasalahan. Dampaknya, beban pikiran atlet bisa berkurang sehingga lebih fokus ketika bertanding.

Banyak hal yang sudah dialami Satria sebagai atlet voli. Dia paling merasa puas ketika bisa meraih juara dalam sebuah kompetisi. Terlebih jika lawan yang dihadapi sama-sama kuat. Namun dia juga sedih karena voli juga ada pasang surut. Misalnya di lapangan tempatnya berlatih yang tak jauh dari rumah. Terkadang pemain cukp banyak. Namun ada kalanya sepi. Begitu juga dengan cedera yang dihadapi. “Saya pernah cedera lutut, tumit, dan engkel,” imbuhnya.

Untuk kedepannya, Satria mengaku tetap berusaha meningkatkan skill bermain voli. Selain untuk menjaga kebugaran tubuh, dia juga menularkan ilmunya kepada anak didik.

(rt/whe/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia