Senin, 16 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Hukum & Kriminal

Begini Awal Mula Kejadian Saudara Keprok Saudara Ipar Sendiri

12 April 2019, 12: 50: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MENYESAL: Pelaku bersama barang bukti ketika ditunjukkan polisi di Mapolres Trenggalek, Kamis (11/4).

MENYESAL: Pelaku bersama barang bukti ketika ditunjukkan polisi di Mapolres Trenggalek, Kamis (11/4). (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Main hakim sendiri masih menjadi pilihan beberapa warga untuk menyelesaikan masalahnya. Seperti yang diduga dilakukan Feri Ika Cahyana, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Pria 36 tahun ini dibekuk Satreskrim Polres Trenggalek karena diduga menganiaya Rudi Yulianto, 49, warga Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan yang tak lain saudara iparnya.

Berdasarkan informasi yang didapat  radartulungagung.id, kasus tersebut bermula Kamis (21/3) lalu. Kala itu sekitar pukul 02.00, di rumah mertua korban yang juga mertua pelaku wilayah Desa Kradekan, Kecamatan Gandusari, keduanya terlibat cek-cok. Pelaku dituduh korban telah mencabuli anak gadis korban yang masih duduk di bangku SMP. “Setelah terjadi cek-cok itu, pelaku merasa sakit hati dan emosi,” ungkap Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibawa Saputra.

Dia melanjutkan, dengan emosi itulah, pelaku langsung mengambil kayu bakar panjang 1 meter diameter 10 sentimeter di rumah mertuanya. Selanjutnya, dipukulkan kepada korban. Pukulan pelaku tersebut mengenai kepala, perut, dan kedua kaki korban.

Akibat perbuatan pelaku, kedua kaki korban patah tulang, luka serius pada bagian kepala, dan mengalami sakit bagian perut. “Setelah menjalankan aksinya, pelaku kabur. Sedangkan korban dibawa ke RSUD dr Soedomo untuk mendapatkan pertolongan,” katanya.

Tidak terima dengan perlakuan pelaku, korban melapor ke polisi. Berdasarkan laporan tersebut polisi menyelidiki. Kamis (11/4) sekitar pukul 02.00, pelaku berhasil dibekuk ketika bersembunyi di wilayah Kecamatan Watulimo.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan polisi, sebelumnya pelaku sempat melarikan diri ke wilayah Kabupaten Blitar untuk panen padi. Jika terbukti bersalah, pelaku diancam dengan pasal 351 ayat 2 KUHP ancaman pidana penjara paling lama lima tahun penjara. “Kasus ini masih kami dalami. Khususnya terkait isu anak korban yang dicabuli hingga membuat pelaku sakit hati,” jelas Didit.

Sementara itu, ketika Koran ini mencoba mengonfirmasi pelaku, Feri Ika Cahyana enggan menjawab. Malah meneteskan air mata ketika digelandang polisi menuji jeruji besi.

(rt/zak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia