Minggu, 16 Jun 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Jalan Berlubang Terus Bikin Celaka, Ojol Kesal Timbun Dengan Tanah

15 April 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MARAK CELAKA : Ojol yang menimbun jalan berlubang di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru.

MARAK CELAKA : Ojol yang menimbun jalan berlubang di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TULUNGAGUNG.ID)

 TULUNGAGUNG – Kondisi jalan provinsi di simpang empat sebelah barat IAIN Tulungagung, di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, membuat ojek online (Ojol) dan warga geram.  Lantaran jalan lubang sudah beberapa bulan yang lalu, namun dinas terkait tak ada tindakan perbaikan. Tak pelak, ojol pun menimbun jalan lubang dengan tanah agar tidak membuat celaka pengendara. 

Ojol yang mangkal di sekitar lokasi, Halis mengungkapkan, banyak yang sudah menjadi korban akibat jalan lubang tersebut, terutama pengendara motor. Disebab jalan itu ada tiga lubang, satu di antaranya berdiamter besar. Yakni sekitar satu meter dengan kedalaman sekitar 15 sentimeter.

Ukuran lubang itu tentu mempengaruhi laju kendaraan menjadi tak stabil, bila pengendara tanpa sengaja melintas di atasnya. “Sudah banyak pengendara motor yang dirugikan dengan lubang tersebut, bahkan tadi pagi (kemarin, Red) ada jatuh lantaran lubang itu juga,” tandasnya Minggu (14/4). 

Dia melanjutkan, waktu malam hari risiko pengendara motor jatuh meningkat, pasalnya minim penerangan mengakibatkan jalan lubang tak terlihat. Sehingga, banyak pengendara motor terperosok lubang akhirnya jatuh. “Kebanyakan pengendara motor yang jatuh mengalami luka ringan,” ungkapnya.

Maraknya pengendara motor jatuh akibat jalan lubang, menggugah kesadaran ojol setempat untuk menimbun jalan lubang. Penimbunan ini butuh dua kereta agar lubang dapat tertutup, sedangkan tanah liat diambil dari tanah pekarangan milik warga setempat. “Penimbunan ini bukan kali pertamanya, namun sudah keempat kalinya. Atas dasar merasa iba dengan pengendara motor yang jatuh akibat jalan lubang,” tuturnya.

Cara penimbunan dengan tanah, lanjut dia, tak bisa bertahan lama, karena jalan provinsi itu dilintasi dari kendaraan roda dua sampai roda empat dan dengan muatan yang berbeda-beda.

Selain itu, curah hujan juga mempengaruhi keawetan timbunan tanah. “Penimbunan ini sebatas sementara, tak bisa bertahan lama,” ujarnya.

Di sisi lain, bentuk protes pun tampak, kala di samping jalan lubang terdapat tulisan dengan menggunakan cat warna putih yang bertuliskan “kemana pajak?”. Kendati demikian, ketika ditanya siapa yang menulis tulisan tersebut, Halis menjawab, “Tak tahu pasti, kemungkinan mahasiswa,” katanya.

(rt/pur/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia