Kamis, 23 May 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Tak Mudah untuk Meraih Status Puskesmas PDP, Ada Komitmen Dipenuhi

19 April 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

TEKAN JUMLAH ODHA : Petugas di klinik bening Puskesmas Ngantru ketika melakukan pendataan ODHA.

TEKAN JUMLAH ODHA : Petugas di klinik bening Puskesmas Ngantru ketika melakukan pendataan ODHA. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RADARTULUNGAGUNG.ID)

TULUNGAGUNG- Penyakit acquired immune deficiency syndrome (AIDS) yang disebabkan virus human immunodeficiency virus (HIV) masih menjadi perhatian penting. Sebab jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Marmer terus bertambah setiap tahunnya.

Untuk menekan jumlah ODHA, berbagai upaya terus dilakukan, salah satunya melalui fasilitas perawatan dukungan pengobatan (PDP) untuk menangani HIV/AIDS.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka mengaku, tak mudah untuk dapat memiliki fasilitas PDP. Pasalnya diperlukan komitmen dan kesiapan baik dari sarana prasarana maupun tenaga kesehatan yang akan menangani.

Untuk itu, bagi puskesmas yang telah memiliki fasilitas PDP untuk dapat menjadi puskesmas satelit. “Jadi perluasannya nanti dengan puskesmas satelit. Artinya bagi puskesmas yang memiliki PDP untuk dapat sharing ilmu dengan puskesmas yang lain. Dengan demikian bisa membantu peningkatan pelayanan,” tandasnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Klinik Bening Puskesmas Ngantru dr Dedi Hariyanto menuturkan fasilitas PDP ini untuk meringankan pengobatan yang ada di klinik seruni yang sudah hampir overload.

Selain itu juga membantu mendekatkan layanan pada ODHA dalam memperoleh perawatan dan pengobatan.

Dia menjelaskan, beberapa fasilitas yang ditawarkan pada PDP salah satunya adalah memberikan dukungan, baik berupa edukasi maupun pengobatan bagi pasien yang positif menderita HIV. “Pertama-tama tentu saja dilakukan pemeriksaan bagi siapa saja yang berisiko terkena. Selanjutnya untuk yang positif diberi dukungan untuk dapat bertahan, bahwa HIV/AIDS dapat diobati dan dicegah penularannya,” ujarnya.

Dia tak menampik jika pandangan atau stigma negative pada masyarakat mengenai ODHA masih menjadi kendala dalam pengobatan. Pasalnya ODHA cenderung dikucilkan, sehingga menutup diri dan enggan melakukan pengobatan. “Paling penting adalah memberikan edukasi bahwa penularan HIV/AIDS tidak semudah yang orang bayangkan. Bahkan ini dapat diobati, sehingga ODHA dapat tetap bertahan hidup seperti orang pada umumnya,” pungkasnya.

(rt/nda/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia