Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Bripda Adit, Bintara yang Juga Judoka Berbakat Asal Parakan

03 Mei 2019, 13: 05: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Bripda Adit, Bintara yang Juga Judoka Berbakat Asal Parakan

Baru dua bulan Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) ada di Bumi Menak Sopal. Meski begitu, Aditya Aji Prasetyo dan kawan-kawannya tak boleh dipandang sebelah mata dalam hal seni bela diri Jepang kuno yang disebut Jujutsu ini. Mereka hanya kalah jam terbang saat ikut kejuaraan Provinsi Judo di Bojonegoro, kemarin (1/5).

Tinggi dan tegap, begitu kesan pertama saat berjumpa Bripda Aditya Aji Prasetyo di pos jaga Mapolres Trenggalek, kemarin (2/5). Pemuda asal Desa Parakan ini sempat menjadi buah bibir di lingkungan korps kepolisian. Sebab, dia baru saja sukses meraih medali perunggu dari Kejurprov Judo di Bojonegoro untuk kelas + 80 kilogram (kg).

Ya, olahraga fisik yang mengedepankan seni bertahan dan menyerang dengan menggunakan tangan kosong ini memang tidak begitu tenar di Kota Keripik Tempe. Maklum, baru beberapa bulan lalu struktur kepengurusan cabang olahraga (cabor) ini terbentuk. Kejurprov ini pun menjadi momen pembinaan pertama yang diikuti oleh para judoka Trenggalek. “Kalau aku latihannya sudah lama, sejak SMP,” kata Aditya kepada Koran ini.

Bukan di Trenggalek, Adit -sapannya- biasanya ikut latihan judo di Kota Tahu, Kediri. Minimal sebulan sekali dia diantar orang tua latihan olahraga fisik ini. “Tapi ikut pertandingan sungguhan ya baru kali ini,” aku pemuda berusia 22 tahun ini.

Grogi menjadi persoalan pertama yang harus dia taklukkan. Jangankan dalam pertandingan, perasaan tegang juga pasti dialami saat latihan. Terlebih dalam momen kejuaraan yang notabene melawan atlet-atlet pilihan di Jawa Timur.

Tak banyak persiapan yang dilakukan Adit dalam kejurprov ini. Dia hanya olahraga seperti biasa. Terlebih, dia kini terikat dengan kedinasan sehingga tidak bisa leluasa atau fokus untuk mengikuti pertandingan. Kendati demikian, dia masih berhasil membawa pulang medali perunggu dalam event tersebut. “Aku kalah napas (fisik, Red),” katanya. Koran ini pun sedikit tak percaya, apalagi melihat fisik Adit yang demikian kokoh yang jelas menyimpan tenaga besar.

Adit hanya menang beberapa kali. Itu pun dengan cara yang tak mudah, hampir menuntaskan 4 menit sesuai lamanya pertandingan judo. Ini juga berarti dia harus berjuang keras selama 3 menit untuk meraih poin tertinggi ketika tidak bisa menjatuhkan atau mengunci lawan.

Untuk kelas +80 kg, dapat menjatuhkan atau mengunci lawan dengan telak bukan hal mudah. Sebab, judoka di kelas ini memiliki fisik yang baik dan skill yang memadai. Adit juga memaklumi hal ini. Ketahanan fisik yang menjadi penentu kemenangan. “Bukan ngeles ya, mereka (lawan, Red) setiap hari latihan, lha kita kan ada piket, kadang jaga malam,” katanya lantas tertawa.

Bagi Adit, menjadi juara tiga dalam kejurprov tersebut bukan hal yang mengecewakan. Sebab, event tersebut merupakan event pertama yang diikuti oleh PJSI Trenggalek. Jadi wajar jika dalam masa perkenalan ini hanya bisa mencapai podium tiga.

Hanya saja, ada sedikit yang disesalkan Adit. Persoalan poin menjadi kewenangan wasit dan juri. Pada pertandingan terakhir, namanya tertulis jelas pada papan billboard sebagai juara. Namun setelah diskusi cukup lama antarjuri, namanya tersebut lantas diganti oleh judoka dari daerah lain. Saat itu, pihak official tidak boleh melayangkan protes karena dapat menuai diskualifikasi. “Ah, tapi gak papa, namanya pendatang baru. Ini jadi pengalaman,” tuturnya.

Bambang Dwiyanto tak bisa menyembunyikan kebahagiaan atas prestasi anak asuhnya ini. Tak hanya karena masih seumur jagung, judoka Trenggalek ternyata mampu bersaing dengan daerah lain. “Ini membuktikan bahwa Trenggalek memiliki bibit-bibit unggul,” kata ketua PJSI Trenggalek ini.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia