Selasa, 12 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

MUI Minta Tata Ulang Tempat Hiburan

06 Mei 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

KH Hadi Muhammad Mahfudz

KH Hadi Muhammad Mahfudz

TULUNGAGUNG - Banyaknya tempat hiburan yang tidak sesuai dengan tempatnya, mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung. Salah satunya mempermasalahkan tempat hiburan yang beroperasi dekat tiga tempat seperti tempat ibadah, pendidikan, dan kantor pemerintahan.

Nah, tempat hiburan itu seperti kafe, warung kopi yang dilengkapi dengan fasilitas karaoke, dan lain sebagainya. Menurut Ketua MUI Kabupaten Tulungagung Hadi Mahfudz, yang perlu ditata ulang pada bulan puasa tahun ini yakni adanya tempat hiburan yang tidak sesuai dengan tempatnya.

Dia menyebut, seperti dekat dengan lembaga pendidikan, tempat ibadah, dan kantor pemerintahan. Pertimbangannya, jika terlalu dekat, dikhawatirkan mengganggu kekhusyukan dalam beribadah. Sementara jika terlalu dekat dengan sekolah, dikhawatirkan mengganggu proses belajar mengajar atau KBM.

“Saya rasa yang perlu ditata ulang adanya tempat hiburan yang dekat dengan tiga tempat yang telah kami sebutkan tadi,” ungkapnya beberapa waktu lalu saat ditemui di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso, Tulungagung.

Dia menjelaskan, keberadaan tempat hiburan yang dekat dengan tiga tempat tersebut memang perlu adanya evaluasi dari pemerintah. MUI pernah mengajukan revisi penempatan tempat hiburan. “Kami sudah lakukan pengajuan revisi, tapi belum ada kejelasan,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Gus Hadi tersebut mengaku tindak lanjut dari pemerintah belum maksimal dalam merevisi tempat hiburan yang dekat dengan tiga tempat itu. Sebab, pemerintah juga memikirkan nasib berbagai orang yang terlibat dalam tempat hiburan tersebut. “Seperti halnya karyawannya. Tidak semudah tiba-tiba dihilangkan, pasti membutuhkan proses,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Bupati Tulungagung Maryoto Birowo menanggapi, tempat hiburan yang ada Tulungagung banyak yang perizinannya diakali. Dia mencontohkan, misalkan awalnya warung kopi, tapi ada tambahan karaoke dan sebagaianya. “Setelah itu, nanti ada tambahan lagi yakni pelayan dan itu yang tidak dibolehkan,” jelasnya saat ditemui dalam pelantikan MUI beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, jika ada yang terbukti seperti halnya menyalahi izin tersebut, pihaknya tidak segan menindak. Namun, sesuai dengan prosedur yang ada. “Semua itu kan butuh proses, tidak semudah membalik telapak tangan. Penegakan peraturan harus flaksibel. Yang penting, pemilik tempat hiburan tidak melanggar peraturan,” jelasnya.

(rt/iyo/abd/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia