Selasa, 21 May 2019
radartulungagung
icon featured
Pendidikan

141 Peserta Paket C Tak Lulus

06 Mei 2019, 12: 45: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TIDAK 100 PERSEN: Ruang komputer yang dulunya digunakan untuk UNBK paket C di SKB Trenggalek.

TIDAK 100 PERSEN: Ruang komputer yang dulunya digunakan untuk UNBK paket C di SKB Trenggalek. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, angka kelulusan bagi peserta kejar paket C tahun ini tidak bisa 100 persen. Pasalnya, ada sebagian peserta yang tidak bisa mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) utama yang digelar pada Sabtu (13/4) hingga Selasa (16/4), dan UNBK susulan pada Sabtu (27/4) hingga Selasa (30/4) lalu dengan berbagai alasan.

Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga (disdikpora), tercatat ada total 309 peserta kejar paket C di 12 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang direncanakan ikut UNBK tahun ini.

Dari jumlah itu, 141 peserta di antaranya dinyatakan tidak lulus ujian. Penyebabnya, ke-141 peserta tersebut tidak bisa mengikuti UNBK, baik utama maupun susulan dengan berbagai alasan.

Padahal, mengikuti UNBK merupakan salah satu syarat wajib kelulusan. “Hal seperti ini biasa terjadi setiap pelaksanaan ujian paket C. Maklum, mayoritas peserta sudah berkeluarga sehingga lebih mementingkan hal lainnya ketimbang pendidikan. Sedangkan untuk jumlah 558 peserta yang keluar sebelumnya merupakan kesalahan sistem,” ungkap Kasi. Pendidikan Masyarakat Kursus dan Kesetaraan Disdikpora, Tutie Qomariah.

Dia melanjutkan, mengenai alasan peserta tidak hadir hingga menyebabkan tidak lulus masih relatif sama. Kebanyakan peserta yang sudah berkeluarga lebih mementingkan pekerjaannya.

Sehingga memilih meninggalkan ujian jika ada panggilan kerja, khususnya ke luar kota bahkan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), juga ada yang melahirkan. Kendati demikian, peserta yang tidak lulus tersebut masih berkesempatan, dengan catatan sanggup mengikuti ujian di tahun mendatang.

Mereka harus melaksanakan pembelajaran seperti semula, satu tahun sebelum pelaksanaan. “Jika masih berminat, mereka bisa mengikuti pembelajaran di PKBM bersangkutan masuk kelas XII. Namun, sepertinya kemungkinannya kecil,” katanya.

Sebenarnya ketika pelaksanaan, semua peserta yang tidak masuk tersebut dihubungi oleh setiap penyelenggara untuk membujuk agar mau ikut. Namun, hal tersebut sia-sia. Sebab, berdasarkan pengakuan penyelenggara ketika menghubungi yang bersangkutan, mereka tidak mau melaksanakan karena sibuk dengan urusan masing-masing.

“Semoga saja mereka bisa mengikuti proses pembelajaran tahun depan karena kami telah melakukan berbagai upaya agar mereka bisa mendapatkan kesetaraan seperti penyelenggara yang menyediakan mobil untuk antarjemput dari tempat kumpul ke lokasi UNBK,” jelas wanita berhijab ini.

Hal senada diungkapkan ketua penyelenggara paket C sanggar kegiatan belajar (SKB) Trenggalek, Muh. Muhtar. Dia menambahkan, mayoritas peserta paket C sudah berkeluarga dan ada yang berusia di atas 60 tahun.

Mereka lebih memprioritaskan urusan keluarga daripada pendidikannya dan sulit dibujuk untuk masuk. “Sebenarnya kami telah melakukan berbagai upaya agar mereka bisa tuntas mengenyam pendidikan. Namun apa mau dikata jika itu telah menjadi keputusannya,” imbuhnya. 

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia