Senin, 16 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Adi Sulistyo, Montir Handal Asal Kedung Sigit Yang Pensiun Jadi Rider

06 Mei 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

CEPAT: Adi saat menjadi montir di bengkelnya sendiri.

CEPAT: Adi saat menjadi montir di bengkelnya sendiri. (ADI FOR RADAR TRENGGALEK)

Hanya butuh waktu setahun bagi Adi Sulistyo untuk membuktikan bakat balapan yang dia miliki. Capaian tertingginya adalah menjadi juara umum pada Kejurnas di Sulawesi 2013 silam. Kini, dia memilih berhenti menjadi seorang rider drag race dan sibuk mengurusi bengkel dan warung.

“Bukan karena cedera aku terpaksa berhenti balapan,” kata Adi Sulistyo tampak serius, siang kemarin (5/5). “Ceritanya cukup panjang,” imbuhnya lantas menceritakan sepintas asal muasal berhenti dari dunia balapan.

Warga Kedung Sigit ini bukan seorang joki atau rider drag race liar. Meskipun pada awalnya memang demikian. Hanya karena memiliki bakat yang baik, ada saja jalan untuk Adi menyalurkan hobi balapan tersebut.

Itu terjadi sekitar 14 tahun silam. Adi -sapaannya- tak ubahnya remaja lain. Hobi utak-atik motor untuk balapan liar. “Awalnya iseng–iseng setting motor untuk balapan, terus ada yang ngajak main untuk event resmi,” katanya.

Ada beberapa kategori dalam event tersebut, yakni untuk peserta pemula dan peserta umum. Adi pun memberanikan diri ikut keduanya. Meski baru pertama menjajal lapangan resmi, nyatanya Adi tak kalah dengan rider lain. Meskipun, tidak keluar sebagai juara dalam event tersebut.

Untuk beberapa hal, memang dibutuhkan proses yang lama. Begitu juga bagi Adi untuk bisa menyandang gelar juara dalam event. Baru sekitar tujuh tahun berikutnya, Adi baru bisa mencapai podium utama menjadi juara umum. Meskipun, ada banyak event atau belapan-balapan lokal yang mendapuknya sebagai juara. “Tahun 2012 itu jadi juara umum Kejurda Jatim, rasanya seneng sekali,” ungkapnya.

Adi tampaknya sedang naik daun. Sebab, pada tahun berikutnya dia telah berhasil menjadi juara umum pada event kejurnas di Sulawesi. Begitu juga dengan champione atau sekelas dengan event kejurnas di Lumajang 2015, dia keluar sebagai juara umum pada event tersebut.

Nama Adi memang cukup familier di dunia balapan pada jalur lurus ini. Namun, tiga tahun lalu dia telah menyatakan undur diri dari dunia balap. Bukan karena persoalan tantangan balapan yang kian besar, mengingat ada banyak bibit baru yang juga menonjol. Tidak juga persoalan risiko besar yang menghantui para pembalap. “Bukan, bukan itu. Tapi soal keluarga” katanya.

Adi sudah berkeluarga. Dia juga telah dikaruniai seorang anak. Rutinitas menjadi joki membuat tak banyak waktu yang bisa dia berikan untuk keluarganya.

Hal ini masih dianggapnya wajar karena pada banyak kesempatan dia juga pulang. Tentunya setelah menjalani seri balapan dalam satu musim atau satu event kejuaran. Maklum, baik untuk kejurda maupun kejurnas, standarnya ada 9 seri balapan. Lokasinya berpindah-pindah antarkota ataupun antarprovinsi. “Awalnya masih bisa bertahan, tapi lama-lama kasihan juga dengan keluarga di rumah karena sering ditinggal,” akunya.

Puncaknya, saat orang tua Adi sedang sakit pada awal 2016 lalu. Akhirnya dia cenderung lebih sering pulang daripada latihan atau mengikuti event-event drag race. Lambat laun, Adi pun semakin berat meninggalkan rumah. Terlebih saat dia membuka bengkel untuk reparasi dan warung makan. “Akhirnya keterusan dan pensiun dari balapan,” ujarnya.

Penghasilan yang dimiliki Adi dari balapan tampaknya tidak bisa dibandingkan dengan usaha bengkel dan warung makan miliknya. Sebab, saat ditanya perbandingan pendapatan, suami Ipung Astrilin ini hanya tersenyum. “Ukurannya bukan soal materi saja, berkumpul dengan keluarga itu juga rezeki,” pungkasnya.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia