Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Marsudi Perajin Kayu Jati Belanda Jadi Furniture

07 Mei 2019, 15: 35: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Marsudi Perajin Kayu Jati Belanda Jadi Furniture

Ketertarikan pada seni, membuat Marsudi mampu mengubah Kayu Jati Belanda menjadi karya seni furniture layak jual.

Penutup hidung sudah menjadi alat yang biasa dipakai Mer-sapaan akrab Marsudi. Sebab, hanya dengan alat itulah, dirinya dapat terlindung dari serpihan-serpihan kayu yang berterbangan di ruangan kecil 6 X 4 meter.

Ya, profesi yang digeluti pemuda 21 tahun itu tak lain adalah seorang perajin kayu. “Saya belajar dari otodidak untuk mengembangkan bisnis ini,” ungkapnya.

Inspirasi menjadi perajin kayu itu bermula, ketika melihat pada akun jual beli di jejaring sosial. Pada akun itu menampilkan pigora unik, karena pada pigora itu terlihat serat kayu yang menarik perhatiannya. Semenjak itu, ketertarikannya dengan serat kayu semakin kuat, sehingga Mer menggali informasi lagi di internet.

Dari selancarnya itu, Mer berhasil menemukan jenis kayu yang digunakan di pigora tersebut, yakni kayu jenis Jati Belanda. “Saya tertarik dengan serat itu, lantas saya mencari teman yang mengerti jenis kayu tersebut, sampai akhirnya bertemu dengan teman yang sudah usaha kayu itu di Malang,” ujar warga Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan.

Sehingga, Mer memutuskan pergi ke Malang, hanya untuk belajar mendalami jenis kayu tersebut. Dari situ, anak nomor lima dari enam saudara itu mengaku belajar banyak dari temannya yang sudah usaha kayu tersebut. Ternyata, seperti dugaannya, kayu Jati Belanda masih sedikit orang yang mengolahnya menjadi furniture. “Kebanyakan kayu jenis itu, hanya diolah menjadi pigora,” ujarnya.

Tentu, setelah menggali banyak informasi kayu jenis Jati Belanda itu, Mer mulai bereksperimen dengan membeli 200 potong kayu sekitar Rp 1 juta. Dia berharap dengan modal 200 potong kayu itu bisa dikembangkan di Tulungagung. Tak pelak, potongan kayu Jati Belanda itu disulap menjadi pigora-pigora kecil untuk langkah awal mendirikan usaha. “Saya tak langsung membuat mebel, karena saat itu masih uji coba,” tandasnya.

Berkecibung di dunia Jati Belanda, ada tiga hal penting agar tak salah memilih bahan. , Seperti kayunya keras, punya serat rapat, dan bekas paku tidak banyak. Hal itu perlu diperhatikan, karena sebelumnya kayu-kayu itu diambil dari Peti Kemas Tanjung Priok Surabaya. “Memahami cara sortir itu, bisa menambah nilai jual kayu,” katanya.

Mer mengaku, hanya belajar dari youtube untuk mengetahui cara menggunakan alat pemotong maupun sketsa. Meski, membutuhkan waktu beberapa bulan, akhirnya dia bisa menguasai teknik pembuatan interior ruangan, seperti rak sepatu, rak bunga, meja, dan kursi.

Ada juga, konsumen yang memesan satu set café bernuansa Jati Belanda. Sehingga harus memadukan desain furniture dengan ruangan. Hal itu pun, bisa dibuatnya dengan alat bor tuner, palu, tatah, bor. “Untuk alat pemotong kayu, saya rakit sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, usaha yang sudah dilakoninya selama dua tahun itu berbuah manis. Karena usaha Jati Belanda belum banyak dikembangkan di Tulungagung. “Dahulu potongan kayu saya jual Rp 4 – Rp 5 ribu, namun kini penjualan Rp 6 ribu per potong. Kini hasil usaha itu, omzet mencapai Rp 10 juta per bulan,” jelasnya.

Sementara itu, Mer yang tak pernah pelit dengan ilmu membuatnya, selalu welcome kepada orang yang berminat belajar dunia kayu Jati Belanda. Tak salah, sempat ada empat anak SMA yang berminat berkecibung di dunia kayu. Sehingga, bermodal pengalaman yang pernah dilaluinya, dia bisa mengajari empat anak SMA itu menggunakan alat sampai pemahaman dunia kayu Jati Belanda. “Saya tertarik mengembangkan potensi anak-anak SMA melalui bidang kayu ini,” katanya.

(rt/dre/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia