Selasa, 21 May 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Peraih 10 Besar Nun Terbaik SMK Negeri Se-Jatim dari Trenggalek

09 Mei 2019, 16: 05: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

NILAI TERTINGGI: Dari kiri, Nuventin Asna Putri, Mufazatul Istiqomah, dan Adedea Oktavia Ayuningrum, ketika ditemui di sekolahnya kemarin.

NILAI TERTINGGI: Dari kiri, Nuventin Asna Putri, Mufazatul Istiqomah, dan Adedea Oktavia Ayuningrum, ketika ditemui di sekolahnya kemarin. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Kendati nilai ujian nasional (NUN) tidak berpengaruh pada kelulusan, dengan memiliki NUN bagus, tentunya bisa lebih yakin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Mungkin hal ini yang ada di benak Nuventin Asna Putri, Mufazatul Istiqomah, dan Adedea Oktavia Ayuningrum, siswa yang akan menjadi alumni SMKN 1 Pogalan. Dengan terus berjuang, mereka akhirnya berhasil masuk 10 besar NUN tertinggi di Jawa Timur (Jatim) dari SMK negeri.

Suasana lengang dari aktivitas sekolah tampak jelas di area SMKN 1 Pogalan kemarin (8/5). Maklum, saat itu memang tidak adanya siswa kelas XII yang mengikuti kegiatan pondok Ramadan di sekolah tersebut.

Sebab, mereka telah menyelesaikan pembelajaran sehingga hanya belajar di rumah sambil menunggu pengumuman kelulusan yang direncanakan bakal diumumkan pada Senin (13/5) mendatang. Di sekolah tersebut hanya terlihat bapak dan ibu guru, tenaga sekolah, serta siswa kelas X dan XI yang melaksanakan kegiatan pondok Ramadan.

Namun jika dilihat secara saksama, saat itu terlihat tiga siswa perempuan yang didampingi seorang guru sedang duduk di ruang sekolah. Mereka adalah Nuventin Asna Putri, Mufazatul Istiqomah, dan Adedea Oktavia Ayuningrum.

Ketiganya adalah peraih 10 besar NUN terbaik SMK negeri di Jatim. Bahkan yang lebih membanggakan lagi, seorang di antaranya adalah Nuventin Asna Putri, peraih NUN terbaik SMK baik negeri maupun swasta di Jatim dengan NUN 380. “Sebenarnya tidak ada kegiatan di sini. Namun saya dan dua teman saya ini diminta ke sini karena ada pembinaan dari guru,” ungkap Nuventin Asna Putri kepada Koran ini.

Bersamaan itu, gadis yang tinggal di Desa Sugihan, Kecamatan Kampak, tersebut mulai bercerita terkait prestasi yang dicapainya tersebut. Ternyata nilai tersebut di luar dugaan baginya. Sebab, dirinya tidak ada keinginan untuk menjadi peraih nilai tertinggi SMK di Jatim, tapi hanya konsentrasi mengerjakan soal ujian nasional berbasis komputer (UNBK) sebaik-baiknya. “Mungkin karena itu saya tidak dijagokan akan meraih NUN terbaik,” ungkapnya.

Kendati demikian, hal tersebut justru memotivasinya untuk meningkatkan belajar lagi dalam menghadapi UNBK. Buktinya, ketika memasuki semester II ini, sebelum UNBK dirinya terus menggenjot proses belajarnya. Hal itu dibuktikan dengan mengumpulkan uang jajannya, dirinya membeli buku latihan soal UNBK. Setelah membeli itu, dirinya langsung berusaha memecahkan seluruh contoh soal yang ada mulai dari matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan mapel pilihan sesuai jurusannya. Bahkan tidak cukup satu buku, dirinya membeli lagi buku yang serupa. Namun dengan penerbit yang berbeda jika buku yang pertama dirasa telah dipahami seluruhnya.

Dengan buku tersebut, dirinya terus mempelajari beberapa contoh soal dan dicari pemecahannya. Tak jarang jika merasa kesulitan dalam memecahkan soal tersebut, dirinya bertanya kepada sang guru. “Dalam mempelajari soal itu, saya khususkan ke soal mapel matematika karena dirasa yang paling sulit,” ujar putri kedua dari dua saudara ini.

Namun sayang, ketika pelaksanaan UNBK terjadi kesalahan teknis sehingga soal matematika yang dikerjakannya tak sesuai dengan jurusannya akuntansi. Tak ayal, karena mendapatkan soal matematika untuk jurusan teknik, dirinya merasa kesulitan dan hanya bisa mengerjakan beberapa. Untung saja, karena kesalahan tersebut, dirinya bersama puluhan rekannya diminta untuk mengikuti UNBK susulan khusus mapel tersebut hingga berhasil memperbaiki nilainya. “Syukurlah setelah mengikuti UNBK susulan soal matematika yang saya dapat sesuai dengan jurusan, mendapatkan nilai sempurna 100. Semoga saja ini bisa memicu saya untuk meneruskan pendidikan lagi,” jelas putri kedua dari pasangan Samsudin dan almarhumah Siti Zaenab ini.

Lain halnya diceritakan oleh Mufazatul Istiqomah, peraih terbaik lima SMK negeri/swasta se-Jatim. Proses belajarnya hampir sama dengan teman-temannya yang lain. Mengingat setiap harinya dirinya pulang sekolah hingga pukul 15.00 sehingga praktis memiliki waktu yang relatif sedikit untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di luar jam sekolah. “Sebenarnya pernah ikut bimbel, tapi itu tidak berlangsung lama karena saya kecapekan hingga menjadi tidak efektif,” imbuhnya.

Kendati demikian, ketika waktu luang dirinya memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh untuk belajar. Hal itu terbukti ketika libur sekolah pada hari Sabtu atau Minggu, dirinya menyempatkan waktu untuk membuka buku tentang pelajaran yang dirasa sulit dan menambahkan pengetahuan untuk mapel yang dirasa mudah. “Akhirnya perjuangan saya itu berbuah hasil dan bisa menjadi terbaik lima SMK negeri/swasta se-Jatim dengan nilai 376,” tuturnya.

Berbeda dengan kedua temannya, Adedea Oktavia Ayuningrum, peraih peringkat 10 nilai NUN terbaik SMK negeri se-Jatim dengan nilai 374, menceritakan jika proses belajarnya menjelang UNBK tidak sama seperti peserta lainnya. Sebab ketika dirinya merasa lelah akibat pulang sekolah yang sore hari, dirinya memilih tidur lebih awal, yaitu sekitar pukul 19.30 atau 20.00. Tujuannya, agar bisa bangun dini hari yaitu sekitar pukul 02.00 untuk belajar. Aktivitas tersebut terus dilakukan beberapa bulan sebelum UNBK. ”Syukurlah bisa masuk 10 besar. Semoga saja ini bisa memicu saya untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Sebab, sudah diterima di sana melalui jalur PMDK,” cetusnya. (ed/tri)

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia