Minggu, 16 Jun 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Petani di Durenan dan Pogalan Rawan Gagal Panen

09 Mei 2019, 12: 15: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MULAI LAGI: Jadwal penanaman padi di Trenggalek belum serempak. Akibatnya, ada beberapa daerah yang rawan gagal panen.

MULAI LAGI: Jadwal penanaman padi di Trenggalek belum serempak. Akibatnya, ada beberapa daerah yang rawan gagal panen. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Dinas pertanian dan pangan optimistis target produktivitas tanaman pangan tahun ini dapat tercapai. Meskipun, ada beberapa perilaku tanam yang selama ini cukup rentan atau berisiko gagal panen.

Itu karena mereka menanam tidak pada jadwal musim tanam yang benar. “Misalnya, petani kita yang ada di Durenan dan Pogalan. Mereka sedikit lebih akhir dalam menanam,” kata Agung Riadhoh, Kabid Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan, kemarin (8/5).

Menurut dia, petani di daerah ini tidak mau menanam padi sebelum sawah mereka basah oleh hujan. Padalah, seharusnya pada akhir tahun mereka sudah bisa mulai pembenihan sehingga pada bulan Maret sudah bisa panen.

Hal ini menjadi persoalan ketika memasuki musim tanam berikutnya. Para petani biasanya memanen padi dua kali dalam setahun. Tanam padi yang kedua ini seharusnya sudah dimulai pada bulan April sehingga pada sekitar bulan Juni atau awal Juli mereka bisa menikmati panen padi untuk yang kedua.

Potensi gagal panen muncul ketika pada bulan Mei petani baru saja menanam padi untuk yang kedua. Sebab, Juni sudah memasuki musim kemarau. Padahal, dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk panen padi. Hal ini berdampak pada tingginya biaya untuk produksi padi. Itupun dengan catatan jika ada sumur atau sember air yang bisa digunakan untuk mengairi sawah. “Kalau tidak ada sumur ya bisa gagal panen. Kalau saat ini usia padi mereka hampir sebulan, potensi gagalnya lebih kecil,” katanya.

Agung mengaku sering kali mengingatkan mengenai jadwal menanam yang benar. Namun, keputusan mengenai kapan menanam padi menjadi kewenangan petani.

Sebenarnya ada peluang untuk meminimalisasi risiko gagal panen. Yakni menjadi peserta asuransi usaha tani padi (AUTP). Dengan membayar premi, tanaman milik petani tersebut telah ditanggungkan jika gagal panen. Hanya saja, pihaknya sedikit pakewuh dengan pihak penjamin jika masa tanam padi tersebut tidak sesuai dengan jadwal atau tak tepat. “Sebenarnya dari pihak asuransi menyetujui, tapi kami yang mengetahui soal teknis pertanian kan ga enak,” katanya sedikit malu-malu.

Ketidaktepatan dalam mengambil keputusan menanam tersebut tidak hanya berdampak pada gagal panen. Namun, juga memengaruhi masa tanam berikutnya dan produktivitas pangan daerah. “Dalam satu tahun itu biasanya kan petani juga menanam palawija, selain padi,” katanya.

Di sisi lain, sambung dia, pemerintah juga memiliki target produktivitas pangan. Minimal padi, jagung, dan kedelai. Setiap tahun target tersebut naik sekitar 5 sampai 10 persen dari tahun sebelumnya.

Untuk padi ditargetkan 190.155 ton gabah kering giling, jagung ditargetkan 71.042 ton, serta kedelai 19.278 ton. “Kedelai ini memang kecil, tapi yang paling berat. Karena nilai ekonomi kedelai yang kecil dibanding komoditas lain. petani memilih menanam tanaman lain,” jelas dia.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia