Rabu, 23 Oct 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Mantan Bupati Soeharto di Mata Para Tetangga di Kelurahan Surodakan

17 Mei 2019, 15: 15: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

RAMAI: Gang tempat tinggal mantan Bupati Soeharto tampak ramai pada sore kemarin (16/5).

RAMAI: Gang tempat tinggal mantan Bupati Soeharto tampak ramai pada sore kemarin (16/5). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Selepas memimpin Trenggalek pada 2005-2010, Soeharto kabarnya tinggal di luar daerah. Hanya pada momen-momen tertentu saja dia kembali ke kampung halamannya di RT 2/RW 1 Kelurahan Surodakan. Ketika masih menjabat bupati, sering kali ada agenda khataman Alquran di Pendapa Manggala Praja Nugraha ataupun di alun-alun.

Siang itu suasana gang Jalan Khairil Anwar tampak lengang. Mungkin karena bulan Ramadan, sebagian besar warga menghabiskan aktivitas di dalam rumah. Baru setelah matahari sedikit condong ke barat, gang ini mulai dihiasi lalu lalang kendaraan bermotor.

Ya, di gang ini atau RT 2/RW 1, mantan Bupati Trenggalek periode 2005-2010 tinggal. Sedari kecil dia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan sederhana. “Pak Harto mlebu, Bu,” ujar seorang perempuan paro baya menirukan ucapan suaminya, kemarin (15/5).

Tidak hanya karena sempat menjabat sebagai bupati Trenggalek, tapi Soeharto memang lahir dan dibesarkan di kelurahan ini. Jadi untuk mereka yang lahir di tahun 1950-an, tentu sudah hafal dan akrab dengan mantan bupati ini. Begitu juga dengan Bagio, kakek yang tinggal tak jauh dari rumah bupati ini.

Wajah sepuhnya masih cukup jelas mengingat bagaimana karakter Soeharto. Dia merupakan salah satu rekan yang boleh dibilang cukup akrab semasa kecil atau semasa muda dulu. Bahkan ketika sudah purna tugas, dia juga masih merasa Soeharto adalah orang yang sama seperti beberapa puluh tahun lalu. “Tapi kemarin ketika pulang ke Trenggalek, tidak kelihatan lagi,” katanya dengan mata menerawang jauh.

Ada rasa tak percaya bahwa rekan sekaligus tetangganya ini bersinggungan dengan masalah hukum. Maklum, selama ini dia memiliki aktivitas yang berbeda, jauh dengan rekannya tersebut. Dia berprofesi sebagai tani, sedangkan Soeharto sempat menjadi pejabat politik yang erat dengan dunia politik.

Bagi Bagio, rekannya tersebut adalah sosok yang sederhana. Yang kemungkinan kecil jika berbuat neko-neko bahkan sampai dianggap merugikan keuangan negara. Namun karena memang sebatas rekan muda, dia pun tak mengetahui semua atau apa saja yang dilakukan semasa menjadi pejabat negara.

Yang masih membekas hingga kini dari sosok Soeharto adalah kedekatannya dengan warga sekitar meski tidak lagi menjadi sebagai bupati.

Soeharto yang semasa tuanya tinggal di daerah Jawa Barat, Bogor, sesekali pulang ke Trenggalek. Entah karena ada acara keluarga atau kepentingan lain. Di sela-sela keperluan di Trenggalek ini, Soeharto selalu anjangsana ke rumah tetangga. “Nah, sering kali ngajak beli sompil di Gandusari sana,” katanya sambil melamun.

Kini Bagio hanya bisa menyerahkan nasib rekannya kepada tuhan. Sembari berdoa, semoga diberikan jalan yang terbaik bagi rekan kecilnya tersebut.

Rumah bercat abu-abu kombinasi hitam yang menjadi tempat tinggal keluarga Soeharto juga tampak lengang. Tak ada aktivitas di depan rumah tersebut. “Pak Harto itu orang baik,” tutur Musyaroh, tetangga yang lain. Soeharto tak ubahnya dengan warga di lingkungan lain yang seneng kumpul dan rukun dengan warga di lingkungan tersebut.

Di sisi lain, Musyaroh masih ingat benar ketika Soeharto menjadi bupati. Nyaris setiap hari ada kegiatan keagamaan di Kota Keripik Tempe. “Sering kali ada khataman Alquran. Kalau tidak di pendapa ya di alun-alun. Di rumahnya itu pun sering juga digunakan untuk khataman,” kenangnya. (ed/tri)

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia