Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung
Jadi Bupati ke-9 Berkat Restu Mbah Mesir

Parto Widjojo, Santri yang Ikut Besarkan Nama Tulungagung

24 Mei 2019, 13: 20: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

KENTAL SEJARAH: Makam Parto Widjojo yang berada di Dusun Ngadirejo, Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol.

KENTAL SEJARAH: Makam Parto Widjojo yang berada di Dusun Ngadirejo, Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG – Kesejarahan Tulungagung tergambar dari ulama yang bernama Kiai Ageng Muh Mesir. Salah satu santrinya yang bernama Parto Widjojo adalah bupati Tulungagung yang mengubah dataran Ngrowo (rawa, Red) menjadi kota Tulungagung.

 Juru kunci makam generasi kelima, Mohammad Sholihul Hamid bin Mundzir melalui Agus Nuril Anwar mengungkapkan, kesejarahan Parto Widjojo sebagai pencetus istilah Tulungagung dan mengubah Tulungagung menjadi kota semata-mata berkat gurunya.

 Pasalnya, ketika Kiai Ageng Muh. Mesir membangun masjid, kala itu Parto Widjojo belajar agama kepada Mbah Mesir, sapaan akrab Kiai Ageng Muh Mesir. “Banyak orang yang mengenal Mbah Mesir ini punya banyak karamah,” ujarnya.

 Dari beberapa lama, Parto Widjojo menjadi santri Mbah Mesir, ternyata Mbah Mesir terkagum dengan semangat dan keuletan dari Parto Widjojo. Sebab, setiap tugas yang diberikan selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh. “Dulu belum ada istilah Tulungagung karena wilayah Tulungagung masih dikenal sebagai Ngrowo (danau, Red),” ungkapnya.

 Suatu ketika, Parto Widjojo mendengar kabar ada pemilihan bupati. Parto Widjojo meminta izin kepada Mbah Mesir untuk merestuinya. Parto Widjojo pun mendapat restu karena Mbah Mesir begitu mengenal karakter para santrinya. “Parto Widjojo saat itu tidak langsung menjadi bupati, tapi menjadi juru tulis bupati,” ujarnya.

 Ternyata, bupati Blitar ini juga merasa terkesima dengan kinerja Parto Widjojo sebagai juru tulis karena riwayat kinerjanya baik. Selain itu, Parto Widjojo juga memiliki visi dan misi yang kuat sehingga keuletannya begitu terlihat. “Bupati itu pun menjodohkan keponakannya dengan Parto Widjojo,” ujarnya.

 Karir Parto Widjojo pun semakin meningkat karena suatu ketika pemilihan bupati dibuka lagi. Mengingat karir itu tidak bisa diraihnya tanpa dukungan dari Mbah Mesir, lalu Parto Widjojo pun kembali ke masjid Mbah Mesir untuk meminta restu. Saat itu, Mbah Mesir meminta Parto Widjojo untuk tirakat dengan berpuasa tujuh hari tujuh malam tidak tidur. Lantas Parto Widjojo pun melakukan tirakat sesuai amanat gurunya.

 Setelah Parto Widjojo dianggap sudah cukup untuk tirakat, lantas Mbah Mesir mengajak dirinya ke Gunung Pasir untuk mencari sumber songo. Saat itu, Parto W, Mbah Mesir, dan Banaspati pun berhasil menemukan sumber sembilan. “Mbah Mesir meminta kepada Parto untuk membawakan pusaka. Parto pun meminta banaspati untuk mengambilkannya,” ujarnya.

 Sembari menunggu, Mbah Mesir meminta Parto untuk meminum segelas air dari sumber songo. Namun, Parto meminum semua mata air sumber songo karena saat itu tak bawa gelas, tapi botol. “Setelah mata air itu diminum semua oleh Parto, mata air itu tak pernah mengalir lagi sejak saat itu,” ungkapnya.

 Sebelum Parto kembali ke Blitar, dia berjanji pada Mbah Mesir akan memberi jabatan penghulu. Mbah Mesir pun menyetujuinya. Namun ketika Parto berhasil menjabat menjadi bupati XI Ngrowo pada 1896–1901, Parto mengunjungi Mbah Mesir untuk memenuhi janjinya memberi jabatan. Namun Mbah Mesir menolak karena dia tidak tertarik dengan jabatan. “Karena Parto merasa berhutang budi dengan Mbah Mesir, lantas dia mendirikan kota yang dinamakan Toeloengagoeng,” tandasnya.

(rt/abd/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia