Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Muhammad Latiful Habibi, Atlet BMX dan Road Bike Muda Raih Prestasi

24 Mei 2019, 15: 11: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MEMBANGGAKAN: Muhammad Latiful Habibi saat menerima medali.

MEMBANGGAKAN: Muhammad Latiful Habibi saat menerima medali. (Muhammad Latiful Habibi for ratu)

Meski usianya masih 13 tahun, prestasi Muhammad Latiful Habibi di bidang cabang olahraga (cabor) balap sepeda patut diacungi jempol. Sebab, dia sering menjuarai kejuaraan balap sepeda tingkat provinsi maupun nasional. Bahkan, kini dia sedang mempersiapkan diri untuk Porprov Jatim, Juni mendatang.

Bibit atlet olahraga yang tumbuh di Kota Marmer sudah tak bisa diragukan lagi prestasinya, terutama di cabor balap sepeda. Buktinya, Muhammad Latiful Habibi sering menjuarai berbagai kejuaraan, baik tingkat provinsi maupun nasional. Di antaranya juara III XC pelajar lokal Tulungagung 2017; juara II BMX Piala Wali Kota Surabaya, kategori 10-12 tahun; juara IV lomba balap sepeda BMX Pra-Youth di sirkuit Kartosari Mandat; juara III Men Pra-Youth, piala Kapolres Tulungagung 2018; juara II kategori BMX Pra-Youth di Velodrom Diponegoro Semarang; juara III kategori road bike 13-14 tahun di Velodrom Diponegoro Semarang; dan juara 1 MTB XC Jombang Cup kelas challenger.

Tentu perjuangan Muhammad Latiful Habibi meraih semua prestasi tersebut tak semudah membalikkan tangan. Habibi, sapaan akrab Muhammad Latiful Habibi, ini harus kerja keras. Bahkan juga latihan fisik untuk mendapatkan skill, power, dan kecepatan yang diinginkan.

Bahkan, kata Habibi, harus latihan dengan rute cukup ekstrem seperti rute berpasir dan berbatu, dan juga kadang berlumpur atau becek.

Sedangkan latihan roadbike lebih perbanyak latihan endurannya/ketahanan dengan bersepeda dengan berkeliling Kota Blitar dan Kediri ke Tulungagung atau daerah Panggul dan lainnya. Diakuinya, hampir setiap hari dia latihan dengan rute berbeda-beda. "Kebetulan saya lebih ke arah balap sepeda BMX dan roadbike. Nah, musuh besarku itu kejenuhan. Jadi, harus dilawan dengan cara mengganti rute tiap latihannya. Terlebih, durasi latihan itu bisa dua hingga lima jam lamanya kita harus bersepeda," jelas remaja yang beralamat di Jalan KHR Abdul Fatah, Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru.

Bagi Habibi, latihan itu penting. Terlebih, dia ingin terus mendapatkan nomor dari cabor tersebut. Pesaing luar kota, khususnya Malang dan Jombang merupakan pesaing yang cukup ketat. Maka dari itu, agar tidak bentrok dengan tugasnya sebagai pelajar. Dia memilih latihan saat sore hari dengan ditemani ayahnya, kakaknya, atau bahkan dari para atlet ISSI. "Kalau pagi kan sekolah. Jadi latihannya ya sore. Selain latihan bersepeda, kita ada latihan nge-gym. Gym-nya di KONI Tulungagung situ," tambahnya

Remaja dari pasangan Choirul Riza dan Rustini ini mengaku menjadi atlet sepeda balap salah satu cara untuk menjadi generasi muda berprestasi. Bahkan, keinginan itu datang karena terdorong melihat kakaknya sukses menjadi seorang atlet sepeda balap. Nah, meski pernah merasa pesimistis saat ikut pertama ikut lomba, Habibi membuktikan diri dengan meraih juara III. Itu juga tak lepas dari support orang tuanya. "Kali pertama ikut lomba itu di event Waduk Wonorejo. Saat itu saya masih kelas 5. Meski sempat berpikir kalah, nyatanya alhamdulillah bisa raih juara III," tegas siswa SDN 1 Tawangsari

Dari keisengan ikut lomba tersebut, Habibi ketagihan dan terus ingin menjuarai kejuaraan cabor balap sepeda. Bahkan setelah menekuni balap sepeda itu, selain bisa meraih banyak prestasi membanggakan, juga bisa menurunkan berat badannya hingga lebih ideal dari 52 kilogram menjadi 45 kilogram. "Selain latihan, juga ada pantangan lain yang kalau bisa dihindari. Yakni makan gorengan," tandasnya. (ed/and)

(rt/lai/dre/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia