Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Gonjang-ganjing Politik Pengaruhi Harga Cengkih

24 Mei 2019, 19: 01: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Gonjang-ganjing Politik Pengaruhi Harga Cengkih

TRENGGALEK – Kondisi politik tanah air tampaknya membawa dampak signifikan terhadap sejumlah komoditas lokal, salah satunya cengkih. Tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan ini kini harganya sedang anjlok. Pabrik rokok tidak ada yang membuka purchase order (PO) alias permintaan barang. Begitu juga dengan pasar ekspor yang kabarnya tutup dalam semingu terakhir ini.

Krisnowo, salah seorang pedagang mengatakan, harga tanaman yang memiliki nama latin Syzygium aromaticum kini memang sedang terpuruk. Sejak sebulan terakhir tidak ada kenaikan harga alias terus turun. Dari sekitar Rp 100 ribu per kilo untuk cengkih kering, kini hanya berkisar di angka Rp 75 ribu per kilo.

Pihaknya menduga ini terjadi karena sejumlah peristiwa politik tanah air. Terdapat kerusuhan di ibu kota sehingga membawa dampak terhadap dunia perdagangan. “Bakul-bakul besar kini tidak ada yang berani beli. Padahal harga sangat rendah,” katanya.

Di sisi lain, sejak sebulan terakhir pasar ekspor juga tidak jalan. Artinya, cengkih hanya beredar untuk pasar lokal. Sayang kondisi lokal juga tidak bersahabat dengan cengkih. Selain karena suasana politik yang demikian tak kondusif, sejumlah pabrik langganan penadah cengkih ini pun sedang tutup gudang. Kemungkinan mereka masih memiliki stok untuk produksi.

Menurutnya, kondisi yang demikian adalah peluang bagi pemilik modal. Sayangnya perekonomian menunjukkan tanda-tanda lesu pascapesta demokrasi beberapa waktu lalu. Dia sendiri mengaku memiliki modal yang terbatas untuk membeli barang sebanyak mungkin. “Petani yang bisa bertahan pasti memilih menahan barang sampai harga membaik, tapi yang sudah kepepet pasti dijual selakunya,” terang dia.

Persoalan rusaknya harga cengkih kini dialami hampir menyeluruh di wilayah Trenggalek. Munjungan bisa dikatakan lebih baik jika berbicara soal harga komoditas tersebut. Meski di daerah ini merupakan sentra pertanian cengkih, ada banyak bakul atau pedagang sehingga petani memiliki nilai tawar lebih ketimbang di daerah lain. “Kalau kering Rp 75 ribu, basahnya sekitar Rp 24 ribu per kilo cengkih,” tutur warga Munjungan ini.

Sementara itu, Ikwan, seorang warga Karang Tengah, Panggul, mengaku kini merupakan penghujung musim cengkih. Namun, tahun ini merupakan kenyataan yang buruk dalam dunia cengkih. Barang yang biasanya cukup moncer dengan harga sekitar Rp 100 ribu per kilo, kini hanya sekitar Rp 70 ribu per kilo. “Ini lagi musim, harganya turun,” tuturnya.

Pria paro baya ini tidak mengetahui secara pasti alasan turunnya harga cengkih. Pihaknya hanya menduga lantaran akses menunju desa yang cukup sulit sehingga bakul memberikan nilai yang sedikit lebih rendah dari harga pasaran cengkih. “Wong sekarang bakul itu kan pinter-pinter ya,” terangnya. 

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia