Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Melihat Aktivitas Budi Daya Udang Vaname di Panggul

Sepuluh Menit Listrik Tak Menyala, Udang Mati

24 Mei 2019, 16: 09: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Melihat Aktivitas Budi Daya Udang Vaname di Panggul

Budi daya udang vaname kini mulai diminati masyarakat pesisir Trenggalek, khususnya di Kecamatan Panggul. Dari sekian banyak virus dan jamur yang menjadi hama udang, ketersediaan oksigen yang cukup menjadi hal yang paling utama.

Deru mesin diesel terdengar cukup keras mengisi kesunyian di pintu masuk lokasi wisata Pantai Konang, Kecamatan Panggul, kemarin (23/5). Di Desa Ngelebeng ini, tepatnya di tepian pantai mulai ramai petak petak kolam lengkap dengan aerator di atasnya.

Yap, budi daya udang vaname kini lagi di-gandrungi sejumlah masyarakat. Udang jenis ini konon lebih tahan terhadap virus dan penyakit ketimbang jenis lain. Tak hanya itu, vaname juga dikenal memiliki usia panen yang lebih cepat. Secara teknis, vaname bisa dipanen saat berusia sekitar 100 hari. Namun faktanya, dengan perlakukan yang apik, udang jenis ini bisa dipanen saat usia 80-an hari. Harga jualnya pun juga cukup stabil di kisaran Rp 60 per kilo.

Sayangnya, tidak semua warga sanggup membudidayakan udang vaname. Itu karena modal yang dibutuhkan untuk budi daya ini juga cukup besar, beriringan dengan risiko gagal panen yang juga terus mengintai pembudi daya udang yang memiliki nama latin Litopenaeus vannamei ini.

"Wuiiiiiiiiinggggg....wuiiingg" Untuk kesekian kalinya alarm tanda lampu mati kembali berbunyi. Imam yang sebelumnya bercakap-cakap dengan beberapa rekannya di gubuk tepian kolam langsung bergegas bangkit. Sedikit terburu-buru dia menuju ruang mesin genset yang tak jauh dari kolam udang peliharaannya tersebut. “Hanya ada waktu 10 menit, terlambat ya mati semua udangnya,” ujarnya sambil melangkah cepat.

Dalam budi daya udang vaname, warga memiliki pedoman atau jurus masing-masing untuk memaksimalkan hasil budi daya mereka. Namun, mereka memiliki perlakuan yang sama saat usia udang mendekati panen. Yakni siaga 24 jam. Bukan karena hama atau virus yang menyerang udang vaname. Tapi soal ketersediaan oksigen.

Aerator harus dipastikan berputar untuk memberikan suplai oksigen pada udang dalam kolam. Terlebih saat usia udang sudah lebih dari dua bulan yang artinya hendak panen. Pada usia ini, udang sangat rentan mati karena kekurangan oksigen.

Maklum, semakin lama kondisi kolam semakin sesak karena udang tumbuh besar. Padahal, luasan kolam dan suplai oksigen dari aerator tidak berubah. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. “Kalau usianya masih satu bulan, malah bisa tahan sampai 3 atau 4 jam tanpa aerator,” katanya setelah menyalakan genset. Tampak aerator yang berwarna biru itu kembali berputar.

Imam mengungkapkan bebeberapa waktu lalu, ada seorang tetangganya yang kesusahan. Sebab, udang usia sekitar sebulan yang dipeliharanya mati. Penyebabnya karena aerator pada kolam tidak berfungsi lataran korsleting listrik. “Jadi, malam hari listriknya njeglek gak konangan, ya mati semua udangnya,” tutur dia.

Udang yang mati tersebut bukan berarti tidak berguna lagi. Masih banyak pembeli yang siap menerima vaname mati tersebut. Hanya saja, harganya memang tidak sesuai dengan pasaran atau hanya separo dari harga normal. Ini jelas menjadi kabar tak sedap bagi pembudi daya, mengingat mahalnya biaya produksi udang ini.

Jika dirata-rata, sekitar 100 ribu ekor udang vaname dibutuhkan sekitar 3 ton pakan hingga bisa dipanen. Harga pakan bervariatif di angka Rp 17 ribu per kilogram. Dengan kata lain, sekitar Rp 17 juta dibutuhkan untuk pakan. Itu belum termasuk upah tenaga kerja maupun kebutuhan sarana dan prasarana lain dalam budid aya udang ini. “Vaname ini harganya stabil di Rp 58 ribu sampai Rp 60  ribu per kilo. Tapi harga turun Rp 5 ribu saja, pembudi daya sudah pasti rugi,” terang dia.

Ada beberapa pembeli udang Vaname di Trenggalek. Mulai dari pedagang lokal untuk konsumsi dalam negeri semisal Jakarta dan sekitar. Ada pula untuk kebutuhan ekspor.

Dari kedua penampung udang ini, masing-masing pembudi daya memiliki penilaian yang berbeda. Sebab, ada negatif dan positif antarpedagang.

Soal harga, pedagang lokal memiliki nilai tawar yang lebih tinggi berselisih sekitar Rp 3 atau Rp 4 ribu dari pedagang untuk pasar eskpor. Namun, pedagang lokal biasanya lebih selektif dalam memilih barang. Tak jarang juga mereka menyortir udang yang dinilai kecil atau rusak. Akibatnya, pembudi daya kadang memiliki sisa udang yang tidak bisa dijual. Sedangkan untuk pedagang ekspor, sudah pasti semua akan diangkut dan dibawa. “Kalau saya pilih ke pabrik karena soal pembayarannya pasti. Kalau di bakul lokal kadang dipinjam dulu, tapi memang harganya lebih bagus,” kata Agus pembudi daya vaname lain.

(rt/dre/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia