Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Gawat, 15 Desa Rawan Kekeringan

20 Juni 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Gawat, 15 Desa Rawan Kekeringan

TULUNGAGUNG – Sedikitnya 15 desa di lima kecamatan dipantau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung. Sebab, memasuki musim kemarau ini, desa-desa tersebut berpotensi mengalami kekeringan yang diprediksi bakal terjadi lagi.

Berdasarkan data yang dimiliki BPBD Tulungagung, daerah-daerah yang dipetakan dan rawan terancam kekeringan tahun ini ada 15 desa. Di antaranya di Kecamatan Tanggunggunung, ada Desa Pakisrejo, Kresikan, dan Tenggarejo (lihat grafis). “Dari segi jumlah wilayah rawan kekeringan masih sama dengan 2018 lalu," ungkap Kepala BPBD Tulungagung Soeroto, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Nadlori Alwi

Dia mengatakan, rerata desa yang dipetakan berada di wilayah dataran tinggi. Meski di dataran tinggi, perubahan cuaca tersebut bisa membuat debit sumber mata air semakin menipis.

Tak heran, BPBD memilih langkah mempersiapkan lebih dini dengan memantau. Khususnya wilayah-wilayah yang selama ini jadi langganan. "Dari 15 desa tersebut, yang berpotensi kering langka biasanya di Desa Besuki, Pakisrejo, Tanggungrejo, Kresikan, Tenggangrejo, Kalibatur, Rejosari, Pucanglaban, Panggungkalak, dan Kaligentong," terangnya.

Alwi menjelaskan, jika dibanding 2017, jumlah desa yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan mengalami penurunan. Sebab, sejumlah desa sudah mendapat pasokan air dari Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM). "Dibandingkan tahun sebelumnya, ini sudah sedikit jumlahnya. Karena sudah ada HIPPAM atau pipanisasi," terangnya

Sejauh ini, BPBD belum mengirim air bersih ke desa-desa itu. Namun, Pemkab Tulungagung telah memerintahkan bersiaga jika sewaktu-waktu mengirim air bersih BPBD akan dropping air bersih untuk kebutuhan masyarakat.

"Kalau ditanya anggaran, untuk bencana kekeringan ini bersifat situasional. Artinya, jika wilayah terdampak bertambah, anggarannya juga akan mengikuti," tegasnya. Berdasar perkiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kering terjadi di bulan September dan berlangsung hingga awal tahun 2020.

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia