Minggu, 21 Jul 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Mengunjungi Sentra Pembibitan Sayur di Kecamatan Ponggok

21 Juni 2019, 22: 50: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SUMBER PENDAPATAN: Bibit sayur di halaman rumah milik warga Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok.

SUMBER PENDAPATAN: Bibit sayur di halaman rumah milik warga Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Sebagian besar warga di Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, memiliki usaha pembibitan sayur. Tidak perlu ladang luas, aktivitas tersebut dilakukan di halaman rumah. Hasilnya pun lumayan, bisa untuk menopang hidup.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 Wib kemarin (20/6). Saat melintas di jalan raya Sidorejo, wilayah Kecamatan Ponggok. Sebagian besar pintu rumah di jalur itu telah tertutup. Mungkin istirahat atau menghabiskan waktu di dalam rumah.

Jalur ini memiliki pemandangan yang sedikit berbeda dengan jalur lain. Terdapat larik-larik uritan atau bibit sayur di hampir semua halaman rumah. Usut punya usut, sebagian besar warga desa setempat memiliki usaha pembibitan. “Kalau pagi tadi, semua warga beraktivitas di halaman,” celetuk Boinah sambil memasukkan tanah bercampur kompos ke dalam polybag berukuran mini.

Boinah adalah satu warga yang menekuni pembibitan sayur. Sudah 12 tahun lamanya dia menekuni kegiatan tersebut. Setiap hari menebar biji biji sayur pada polybag.

Perempuan 50-an tahun ini juga tidak mau ambil pusing mau dibawa ke mana bibit-bibit hasil budi dayanya tersebut. Seingatnya, tidak pernah ada benih sayurnya yang tak laku. Semua habis saat waktunya panen. Yakni setelah usia 15 hari.

Dia hanya fokus menjaga kualitas bibit budi dayanya tetap baik. Sehingga tak akan ditinggalkan petani atau pedagang yang biasanya mampir untuk mengambil bibit sayur. “Ada bakul, ada petani. Kadang dari Blitar sendiri, kadang dari Kediri,” katanya.

Ada banyak sayuran yang dibudidayakan Boinah. Mulai dari cabai, brokoli, terong, kubis, tomat dan sayur-sayur lainnya. Setiap bibit memiliki umur dan harga yang berbeda. Yakni Rp 90 hingga Rp 250 per polybag. Biaya pokok produksi yang dibutuhkan untuk satu polybag sekitar Rp 60.

Pembibitan ini bukan pekerjaan sampingan, melainkan pokok. Boinah maupun suaminya tidak memiliki aktivitas lain di luar menanam bibit-bibit tersebut. Itu juga berlaku untuk sebagian besar warga yang menggeluti pembibitan sayur. “Ini lumyan lho, bisa untuk nguliahkan anak,” tutur Boinah.

Minimal seminggu sekali Boinah panen. Omzetnya pun cukup lumayan, tak kurang dari Rp 5 juta bisa dikantongi setiap bulan. “Kalau gak lumayan ya gak bakal ada yang mau seperti ini,” kelekarnya.

Sayang, semakin lama kualitas tanah yang digunakan untuk pembibitan menurun. Boinah dan pembudi daya lain biasanya membeli tanah untuk pembibitan ini cukup jauh. Yakni dari daerah Kediri. Konon itu adalah tanah khusus untuk pembibitan, tidak seperti tanah yang ada di ladang atau sawah. Warnanya memang sedikit berbeda, cokelat kehitaman. “Itu tanah yang sudah dicampur kompos. Mungkin karena jumlah peternak menurun sehingga kualitasnya sedikit menurun,” ujar Tatik, warga lainnya.

Tanah berpengaruh besar dalam proses penunasan benih. Jika normalnya tunas bisa tumbuh sempurna dalam seminggu, kadang muncul beberpa yang gagal bertunas. Sejauh ini, memang dalam batas yang masih wajar. Kendati begitu, Tatik, Boinah dan pembudi daya lain tampaknya harus mencari alternatif atau jurus baru agar benih-benih yang sudah mereka tebar bisa tumbuh dengan sempurna. “Semantara masih aman. 90 persen masih bisa bertunas baik,” pungkasnya.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia