Minggu, 21 Jul 2019
radartulungagung
icon featured
Blitar

Butuh Life Guard, Agar Kejadian Wisatawan Tenggelam Tak Terulang

22 Juni 2019, 15: 20: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

PERLU BERBENAH: Pengamanan wisata Pantai Pangi harus diperhatikan agar peristiwa wisatawan tenggelam tidak terulang.

PERLU BERBENAH: Pengamanan wisata Pantai Pangi harus diperhatikan agar peristiwa wisatawan tenggelam tidak terulang. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

BLITAR KABUPATEN – Petaka laut yang dialami dua wisatawan asal Kabupaten Jombang, menjadi peringatan pentingnya sarana prasarana (sarpras) keselamatan di lokasi wisata. Tidak hanya di Pantai Pangi, Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung, tapi juga lokasi wisata pantai lain yang kini dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.

“Sebenarnya sudah ada rambu-rambu agar wisatawan tidak asal main air di pantai,” kata Kepala Pos SAR Trenggalek, Brian Gautama, kemarin (21/6).

Namun, lanjut dia, itu saja tidak cukup. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, semua tempat wisata yang memiliki risiko musibah harus menyediakan layanan SAR. Artinya, pengelola wisata harus menyedikan sarana dan petugas khusus untuk memberikan perlindungan terhadap wisatawan ataupun pengunjung tempat rekreasi atau wisata. “Selain rambu-rambu keselamatan, juga ada life guard dan sarana pertolongan pertama,” tuturnya.

Dia mengakui, sebetulnya ada potensi SAR, yakni masyarakat yang pernah mengikuti pelatihan dari Basarnas. Namun, fungsi mereka harus ditunjang dengan sarana lain.

Di sisi lain, pemerintah atau pengelola lokasi wisata memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan pengunjung tempat yang dikelolanya. “Nah, potensi SAR ini bisa saja dikelola menjadi petugas atau penjaga pantai, tapi juga harus dilengkapi sarana lain. Misalnya saja menara pantau, pengeras suara, serta sarana mobilitas,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, beberapa daerah telah melakukan hal tersebut. Bahkan, ada yang memanfaatkan sarana ini sebagai penambah daya tarik wisata. Yakni dengan memanfaatkan kuda sebagai sarana untuk mobilitas personel penjaga atau life guard di pantai. “Di wilayah Jatim yang life guard-nya hanya di Pantai Teleng Ria, Pacitan,” ucapnya.

Di samping itu, pihaknya juga berharap wisatawan yang hendak berkunjung ke wisata pantai melihat perkiraan cuaca yang selalu dilansir BMKG. Jika cuaca tidak memungkinkan, kunjungan bisa dibatalkan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan. Semisal mandi air, mengingat cuaca dan kondisi pantai selatan yang langsung masuk ke samudra.

Dia menambahkan, hingga kini nasib dua wisatawan asal Kabupaten Jombang yang terseret ombak di Pantai Pangi belum juga ditemukan.

Meskipun, petugas gabungan telah menghentikan operasi pencarian beberapa waktu lalu dan bakal membuka kembali operasi tersebut jika memang ada informasi yang valid mengenai korban tenggelam ini. “Hingga kini kami belum ada laporan. Kontak pos SAR sudah kami sebar sehingga bisa dihubungi sewaktu-waktu,” tandasnya.

Seperti diinformasikan, 14 wisatawan asal Kabupaten Jombang berwisata ke Pantai Pangi, Selasa (11/6) lalu. Mereka sempat mandi di pantai tersebut. Namun nahas, ombak besar yang datang tiba-tiba menggulung belasan wisatawan tersebut. Beruntung, sebagian besar berhasil menyelamatkan diri, tapi dua di antaranya hilang terseret ombak.

Dua wisatawan nahas itu adalah Indra Prasetya, 21 dan Eko Julianto, 29. Keduanya tidak bisa menyelamatkan diri dan terseret ombak hingga akhirnya hilang. Sampai sekarang dua korban yang terseret ombak tersebut belum ditemukan. 

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia