Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Kisah Penakluk Cilik Tebing Gunung Sepikul

22 Juni 2019, 20: 25: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SEMUA SIAP: Zidan ketika memanjat salah satu tebing Gunung Sepikul di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, kemarin.

SEMUA SIAP: Zidan ketika memanjat salah satu tebing Gunung Sepikul di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, kemarin. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Takut apalagi fobia pada ketinggian tampaknya harus dibuang jauh-jauh ketika ingin menekuni olahraga panjat tebing. Pasalnya, jika memiliki niat yang setengah-setengah, pastinya mereka tidak akan bisa melakukannya, termasuk memanjat Tebing Gunung Sepikul. Hal inilah yang dirasakan anak-anak ketika memanjat tebing yang berlokasi di selatan Kota Keripik Tempe ini .

Tebing Gunung Sepikul, mungkin nama itu sudah tidak asing lagi terdengar bagi masyarakat Kota Keripik Tempe dan sekitar. Hal itu dibuktikan dengan berbagai event yang pernah diadakan masyarakat setempat di tebing yang menjulang ke atas menyerupai tower tersebut. Terbagi atas tiga tower bersebelahan tersebut. Apalagi, kini tebing yang terbentuk dari batuan andesit tersebut sangat diminati para pecinta alam untuk berolahraga panjat tebing. Seperti yang terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini mengunjungi tebing tersebut kemarin (21/6).

Bukan perkara mudah untuk menuju tebing yang berada di wilayah Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo ini. Jalan menuju lokasi hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Pengemudi roda dua harus ekstra berhati-hati. Sebab, dengan kondisi jalan dengan bebatuan yang bergelombang dan curam, pastinya jika tidak berhati-hati, pengemudi akan terjatuh. Kendati demikian, tidak menutup niatan sejumlah anak melaluinya untuk melihat dan mencoba tantangan memanjat Tebing Sepikul.

Ketika Koran ini sampai di tebing tertinggi di Jawa Timur (Jatim) tersebut, terlihat beberapa orang termasuk anak-anak yang salah satunya Zidan El Kahfa. Sesampainya di lokasi, dirinya langsung menyiapkan keperluan yang digunakan seperti harness, helm, sepatu, dan sebagainya. Setelah semuanya cukup, dia langsung mulai memanjat. Terlihat tangan dan kakinya ketika memanjat sudah cekatan dan lihai. Namun sesekali ketika memanjat, dia berhenti dan mencari lokasi batu yang pas untuk tempatnya pegangan atau berpijak. Sesekali dia menengok ke bawah guna meminta instruksi seorang pemandu yang ada di bawah tentang bagian mana pada tebing yang bisa diraih. “Memang ketika memanjat ada beberapa lokasi yang sedikit sulit, tapi itu bisa segera teratasi,” ungkap Zidan El Kahfa kepada Koran ini.

Sebenarnya, sebelum memulai memanjat tebing tersebut, dirinya sedikit merasa takut. Mengingat tiap tebing memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Apalagi bocah yang akrab disapa Zidan ini mengaku belum pernah mencoba memanjat Tebing Sepikul sebelumnya. Sebelum memulai memanjat, dirinya meyakinkan diri agar bisa menyelesaikannya hingga menggali informasi terkait karakteristik tebing tersebut. “Karena itu, sebelum memanjatnya, saya terlebih dahulu mendengarkan arahan dari sang pemandu,” ujarnya.

Dengan mendapatkan informasi seperti tingkat kesulitan sekitar 5.9 dan kemiringan antara 75 sampai 80 derajat, dirinya mulai tahu apa yang dilakukannya. Dari situ pikirannya untuk memanjat tebing tersebut jadi lebih tenang hingga bisa menyelesaikannya dengan baik. ”Saya baru menekuni olahraga ini sekitar satu tahun lalu. Syukurlah dengan perasaan yang tenang, dia bisa melaluinya dengan baik,” ujar bocah delapan tahun tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan olah Azriel El Miski, salah satu bocah yang mencoba memanjat tebing tersebut lainya. Menurut dia, sebelum memulai memanjat bagian tebing yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, terlebih dahulu dirinya mencoba memanjat bagian untuk pemula. Dengan memanjat bagian itu, dirinya mulai paham karakteristik tebing tersebut. “Untuk pemula, daerah yang dipanjat dengan ketinggian sekitar 25 meter dan saya bisa melaluinya,” imbuhnya.

Sedangkan dalam memulai memanjat, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan peralatan yang nantinya digunakan. Sebab, kesiapan alat tersebut merupakan kunci kesuksesan dan kelancaran dalam setiap kali melakukan pemanjatan. Sebelum memulainya, dirinya langsung mengecek peralatan yang digunakan khususnya tali. Ini dilakukan karena tidak menuntup kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkan tali tersebut rusak. Seperti dimakan tikus, tergores pisau, dan sebagainya. Dari situ, jika diketahui peralatan tersebut rusak, dirinya harus menggunakan peralatan lainnya yang lebih siap. “Jika peralatan siap, keyakinan saya untuk memanjat tebing ini bisa tumbuh. Makanya setelah mencoba lokasi untuk pemula, saya berani mencoba bagian untuk profesional,” tutur bocah 12 tahun ini. 

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia