Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Blitar

Budi Daya Udang Terkendala Lahan, Potensi Ikan Belum Optimal

11 Juli 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

TERKENDALA LAHAN: Tambak udang vaname di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, butuh izin khusus untuk pemakaian lahan.

TERKENDALA LAHAN: Tambak udang vaname di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, butuh izin khusus untuk pemakaian lahan. (AGUS MUHAIMIN/RADARTULUNGAGUNG.ID)

BLITAR KABUPATEN – Pengembangan perikanan budi daya terutama udang vaname masih terkendala lahan. Sebab, sebagian besar lokasi yang cocok untuk hewan tersebut berada di lahan Perhutani.

Dengan begitu, perlu izin khusus agar bisa menggunakan lahan milik negara. "Memulai usaha di lahan Perhutani harus penuhi prosedur dulu. Karakter laut di wilayah Blitar curam sehingga sulit mendapatkan suplai air laut ke darat. Termasuk kendala lain tambak vaname," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Adi Andaka kemarin (10/7).

Untuk perikanan budi daya lain, semisal gurami, lele, dan ikan air tawar lain, tidak ada kendala berarti. "Di kabupaten ini sedang ramai budi daya koi," tandasnya.

Di sisi lain, perikanan tangkap masih butuh fasilitas penunjang. Semisal tempat pengisian bahan bakar solar untuk nelayan belum bisa dioperasikan.

Meski demikian, dinas peternakan dan perikanan mengklaim hal tersebut tidak masalah. Sebab, nelayan mengantongi surat untuk membeli solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). "Nelayan pakai surat izin perikanan tangkap untuk mendapatkan solar," katanya.

Dia mengaku baru saja melihat langsung kondisi nelayan Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Yang dikeluhkan nelayan kini harga ikan murah. Fenomena tersebut kerap dihadapi nelayan setiap tahun lantaran musim ikan. "Tadi mereka mengadu katanya harga ikan sejenis tongkol sekilo cuma seribu rupiah," ujarnya menirukan keluhan nelayan.

Dinas berupaya sebisa mungkin menjaga stabilitas harga ikan saat musim panen. "Saya tadi memang lihat ada nelayan bersandar bawa sekitar 10 ton ikan, memang masuk musim panen," terangnya.

Kini kapasitas kolam labuh di Tambakrejo mendekati penuh seiring pertambahan nelayan di kawasan ini. Ada sekitar 15 kapal dengan kapasitas 10 gross tonnage (GT). Padahal setiap kapal terdiri dari dua buah kapal. Yakni untuk jaring dan kapal penarik. Sayangnya terkait pelabuhan menjadi kewenangan pemerintah provinsi. "Sekarang kewenangan kan ada di provinsi, kami hanya melakukan pembinaan," terangnya.

Dia mengungkapkan, potensi perikanan tangkap di Kabupaten Blitar sangat besar. Lebih dari 52 ribu ton per tahun potensi ikan bisa diambil nelayan. Namun, hanya 3,6 ribu ton yang bisa dibawa ke daratan. Itu karena kapasitas dan jumlah nelayan di Blitar belum banyak. "Meskipun di sisi lain ada banyak faktor memicu produksi perikanan tangkap, misalnya cuaca," katanya.

(rt/muh/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia