Minggu, 21 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Cerita Komunitas Indonesia Escorting Ambulans (IEA) di Blitar Raya

Tanpa Pamrih Kawal Pasien Kritis

11 Juli 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

TUNTAS: Yohanes Kris Putra dan rekan-rekan IEA usai mengantarkan jenazah di daerah Wlingi beberapa waktu lalu.

TUNTAS: Yohanes Kris Putra dan rekan-rekan IEA usai mengantarkan jenazah di daerah Wlingi beberapa waktu lalu. (YOHANES KRIS PUTRA FOR RADARTULUNGAGUNG.ID)

Bukan karena kurang kerjaan, rider Indonesia Escorting Ambulans (IEA) membuntuti atau mendahului ambulans yang sedang membawa pasien. Mereka terpaksa membukakan jalan karena kadang banyak pengemudi tak mengindahkan pentingnya sirene dibunyikan.

AGUS MUHAIMIN

"Kami bergerak ketika ada stuck atau macet saja. Kalau jalanan normal, kami di belakang (ambulans, Red)," kata Yohanes Kris Putra, setelah minum es cendol di warung depan RSUD Mardi Waluyo, kemarin (10/7). Beberapa tahun terakhir, Putra -sapaan akrabnya- memiliki aktivitas tambahan di luar rutinitas menjadi penjual martabak. Yakni menjadi relawan atau pendamping ambulans yang sedang mengantarkan, mengawal, atau menjamin perjalanan pasien ini bisa selamat dan secepat mungkin sampai di tempat tujuan.

Memang sedikit aneh. Biasanya pengawalan dilakukan pihak yang berwenang dalam lalu lintas. Begitu juga yang mendapat pengawalan adalah pejabat-pejabat penting. Semisal presiden, gubernur, dan pejabat-pejabat publik lain. "Kami itu trenyuh ketika ada banyak pengendara seolah tak dengar ada sirene ambulans di belakang mereka," katanya.

"Saya sendiri pernah mengalami hal tersebut sehingga merasa prihatin sekali," imbuhnya.

Kala itu ada anggota keluarganya yang butuh pelayanan medis segera. Sayang, jalanan macet dan minimnya kesadaran pengguna jalan membuat anggota keluarganya cukup lama dalam perjalanan. Beruntung, tidak menimbulkan efek fatal. "Jadi sudah orang susah, terus kena macet kan ikut dosa juga kalau sampai tidak tertolong," ucapnya.

Atas dasar tersebut, Putra memutuskan membantu tugas ambulans mengantarkan pasien ke tempat tujuan tanpa upah dan apresiasi apapun. Baginya, bisa mengantarkan pasien sampai tempat tujuan dengan cepat dan selamat adalah sebuah kebahagiaan tidak bisa dinilai dengan materi.

Awalnya, Putra dan beberapa orang rekannya memiliki keprihatinan dan semangat sama di bidang sosial. Hanya ikuti naluri sosialnya saja dalam bertindak. Artinya, mereka sebisanya membantu perjalanan ambulans tanpa petunjuk berlalu lintas. Lama-kelamaan mereka bertemu dengan relawan dari daerah lain yang memiliki visi dan misi yang sama.

Akhirnya, tahun 2017 lalu mereka bergabung dengan sebuah organisasi sosial IEA ini. "Ada banyak organisasi lain juga memiliki bidang seperti ini. Kalau di Blitar Raya ada dua, di Malang ada lebih banyak lagi," tandasnya.

Selama ini tidak pernah ada gesekan sesama relawan. Sebaliknya, mereka tanpa pamrih mengiringi ambulans ini mampu bersinergi di bidang sosial.

Perselisihan kerap terjadi bukan dengan relawan, melainkan dengan pengguna jalan. Sebab, aktivitas yang dilakukan Putra dan rekan-rekannya tersebut kadang membuat pengguna jalan lain tidak nyaman. Betapa tidak, mereka harus mendahulukan perjalanan ambulans padahal ada banyak kepentingan yang harus dilakukan. "Lha sampean gelem numpak (kamu mau naik)  ambulans?" ingatnya terkait kata-katanya kepada pengguna jalan yang ngeyel meski telah diberi pengertian.

Sepengetahuan dia, ambulans memiliki ranking II sebagai prioritas pengguna jalan. Itu setelah mobil pemadam kebakaran. Sehingga rambu-rambu lalu lintas tidak berfungsi ketika mobil emergency ini bertugas.

Wilayah Blitar Raya memiliki tingkat kemacetan hampir merata. Namun pada spot tertentu memiliki keparahan lebih. Semisal jalur Selopuro, Brongkos, hingga Samben untuk wilayah timur. Sedangkan di wilayah barat, Tugu Rante dan Pasar Srengat menjadi spot terkadang mengganggu perjalanan ambulans. "Kalau wilayah kota. Itu ada di Jalan Melati dan seputaran Pasar Legi," ujar Ramadhan Wendy Saputra, relawan lain.

Dia mengungkapkan, aktivitas relawan ambulans ini dibatasi waktu. Maksimal pukul 23.00, mereka tidak akan mendamping ambulans lagi. Selain karena lalu lintas sudah lancar, para relawan juga harus menghemat energi untuk keesokan hari. Sebab, ada kasus tertentu. Misal ambulans dari luar kota mengantarkan jenazah. "Kalau mengantarkan jenazah ini kadang kebingungan jalan. Jadi kami harus bantu," katanya.

Biasanya, Ramadhan dan rekan-rekannya mendapat konfirmasi dari pihak rumah sakit ketika butuh pendampingan ambulans.

Selain itu, ada grup khusus di dalamnya terdapat driver-driver ambulans rumah sakit. Sehingga koordinasi mengenai pendampingan bisa lancar. "Saya kalau ada rujukan ke Malang selalu kontak mereka (IEA, Red), Jalur Brongkos itu sering padat," kata Nurhadi, salah seorang driver ambulans. 

(rt/muh/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia