Senin, 26 Aug 2019
radartulungagung
icon-featured
Blitar

Suami Main Perempuan, Istri Dibogem, Warga Gandusari Dipolisikan

16 Juli 2019, 16: 38: 29 WIB | editor : Didin Cahya FS

KAPOK: Tersangka Nasrullah digiring polisi ke ruang PPA Satreskrim Polres Blitar untuk menjalani pemeriksaan, Selasa (16/7).

KAPOK: Tersangka Nasrullah digiring polisi ke ruang PPA Satreskrim Polres Blitar untuk menjalani pemeriksaan, Selasa (16/7). (M. SUBCHAN ABDULLAH/RADARTULUNGAGUNG.ID)

BLITAR KABUPATEN - Nasrullah warga Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari harus berurusan dengan polisi. Pria  37 tahun itu tega memukul wajah istrinya, IM, dengan tangan kosong.

Akibat bogeman dari sang suami itu wajah IM lebam. IM langsung ambruk dan dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut. IM langsung melaporkan suaminya ke pihak berwajib.

Aksi main pukul itu dipicu emosi pelaku karena dimarahi koraban, IM, setelah ketahuan sering main perempuan. Puncaknya, pelaku emosi hingga memukul korban setelah ketahuan memiliki wanita idaman lain atau WIL. "Menurut pengakuan saksi maupun korban, bahwa suaminya itu (pelaku) punya WIL," kata Kasat Reskrim Polres Blitar AKP Sodik Effendi, Selasa (16/7).

Akibat perbuatannya itu, kini pelaku ditahan di Polres Blitar. Sedangkan korban atau sanh istri tengah menjalani perawatan medis di rumah sakit. "Korban mengalami luka lebam pada dua matanya. Bibir pecah serta luka bekas cakaran di leher," jelas perwira berpangkat tiga balok di pundak ini.

Kasus Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu terungkap setelah adanya laporan dari korban pada Kamis (11/8) lalu. Awalnya korban merasa cemburu dengan suaminya. Sebab, suaminya sering main perempuan.

Sampai puncaknyq, suami korban atau pelaku ketahuan memiliki perempuan lain. Sang istri pun cemburu sampai marah-marah kepada pelaku. "Karena sering dimarahi itu, pelaku sangat emosi hingga terjadi pemukulan itu. Mungkin ini puncaknya," ujar polisi ramah ini.

Dari laporan itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, pakaian korban dan pelaku ketika terjadi pemukulan, buku nikah dan bukti visum luar korban.

Pelaku dijerat pasal 44 ayat 1 UU  Nomor 23 Tahun 2004 PKDRT. "Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasa 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp15 juta," jelas Sodik.

(rt/kan/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia