Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Semangat Livi Zheng Kenalkan Budaya Indonesia ke Luar Negeri

Pilih Lokasi Candi Penataran dan Sawentar

09 Agustus 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MEMBANGGAKAN: Livi Zheng foto bersama keluarga Bupati Blitar Rijanto sebelum menonton film Bali: Beats of Paradise di Blitar Square, Selasa (6/8) lalu.

MEMBANGGAKAN: Livi Zheng foto bersama keluarga Bupati Blitar Rijanto sebelum menonton film Bali: Beats of Paradise di Blitar Square, Selasa (6/8) lalu. (M. SUBCHAN ABDULLAH/RADARTULUNGAGUNG.ID)

Sudah beberapa film bertema aksi diproduksi oleh Livi Zheng. Namun, belakangan ini tema film yang diproduksinya bergeser ke kebudayaan. Yang terbaru Bali: Beats of Paradise dan The Santri yang kini sedang proses produksi.

MOCHAMMMAD SUBCHAN ABDULLAH

Selasa (6/8) lalu, film berjudul Bali: Beats Of Paradise tayang perdana di bioskop CGV Cinema Blitar Square. Sejak pukul 18.00 lantai tiga Blitar Square sudah padat oleh pengunjung. Sebagian dari mereka antre tiket untuk menonton film tersebut.

Film yang diproduseri oleh Livi Zheng itu dijadwalkan tayang premier pukul 19.00. Bupati Blitar Rijanto dan Plt Wali Kota Blitar Santoso pun turut hadir diundang. Keduanya hadir bersama anggota keluarganya. Sejumlah pejabat juga hadir menonton film karya putri daerah Blitar itu.

Dua jam sebelum tayang itu, Livi Zheng sudah terlihat sibuk melayani foto dengan para fansnya dengan latar photobooth poster film Bali: Beats of Paradise. Termasuk dua kepala daerah, juga ikut foto bersama.

Di sela-sela melayani foto dengan para fans itu, perempuan yang akrab disapa Livi itu menjelaskan gambaran cerita dalam film tersebut. Film itu mengangkat kisah inspiratif seorang tokoh seniman Bali yang kini eksis di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat yaitu Nyoman Wenten.

Di film itu diceritakan bagaimana perjalanan Nyoman Wenten bisa memperkenalkan seni gamelan di Negeri Paman Sam itu. Perjalanan yang berawal dari sebuah mimpi hingga akhirnya menjadi kenyataan. "Film ini berdasarkan kisah nyata dari Nyoman Wenten. Sebuah drama tentang seniman yang sukses di Amerika," jelasnya saat ditemui di lantai tiga Blitar Square tiga hari lalu.

Di film itu dikisahkan awal perjalanan seniman Bali itu mulai mengenal seni musik dan seni tari. Sejak kecil, Nyoman Wenten sudah tertarik dengan dunia seni dan tari. "Beliau saat muda dulu pernah ditugaskan oleh bapak Presiden Soekarno untuk menyebarkan misi kebudayaan Indonesia," jelas Livi yang tampak anggun mengenakan setelan batik itu.

Singkat cerita, seiring perjalanan Nyoman Wenten mendalami seni musik dan seni tari, akhirnya dia berhasil menjadi komposer musik gamelan. Hingga akhirnya, dia memutuskan terbang ke Amerika Serikat untuk mengejar mimpinya mengenalkan gamelan.

Selama kurang lebih 40 tahun, Wenten menetap di Amerika Serikat. Di sana juga menjadi dosen di dua perguruan tinggi. Yakni di University of California-Los Angeles (UCLA) dan di California Institute of the Arts. "Selama itu, dia juga sudah ke mana-mana. Ke eropa juga. Di eropa juga punya program seni," terang perempuan 30 tahun ini.

40 tahun berlalu, kini Nyoman Wenten balik lagi ke kampung halamannya di Pulau Dewata, Bali. Usai balik itu, dia lantas tidak berhenti berkarya. Dia terus menularkan ilmunya kepada para generasi muda di Bali.

Di film Bali: Beats of Paradise itu Wenten berkolaborasi dengan penyanyi ternama Amerika, Judith Hill. Penyanyi yang memenangkan Grammy Award. Selain itu, juga kontestan The Voice dan partner duet Michael Jackson.

Di film Itu, Wenten dan Judith menggabungkan genre musik tradisional Bali yang pentatonik dengan musik funk. Musik perpaduan dua "dunia” itu dikerjakan bersama oleh Wenten dan Judith dalam studionya Queen of the Hill.

Film itu juga dilengkapi video klip yang sarat dengan warna dan balutan busana tradisional Bali. Video klip itu juga karya dari Livi Zheng. Film itu juga mendokumentasikan proses pembuatan video klip lagu Judith Hill dan pengerjaan musiknya. Selain itu, juga mengeksplor budaya dan tradisi yang ada di Bali.

Film tersebut dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 22 Agustus. Selain di Blitar, film itu juga ditayangkan premier di Malang dan Surabaya.

Menurut Livi, musik gamelan kini sudah dipakai dalam film Avatar karya James Cameron, TV seri Star Trek, dan Nintendo Games Super Mario Bros.

Seni musik gamelan itu kini juga diajarkan di banyak universitas di Amerika. Di antaranya Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of California-Los Angeles (UCLA), dan University of California-Berkeley (UC-Berkeley).

Satu lagi film bertema kebudayaan karya Livi Zheng yang ditunggu-tunggu adalah film The Santri. Film yang mengangkat kisah hidup santri di Indonesia.

Salah satu latar syuting film itu berada di Blitar. Livi mengambil beberapa tempat bersejarah di Blitar untuk film yang trailernya rilis pada Oktober mendatang. Kini film itu sedang proses produksi. "Ya, beberapa waktu lalu saya ambil tempat di sini (Blitar, Red) juga. Dua di pondok pesantren serta di Candi Penataran dan Candi Sawentar," ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Livi dan timnya mengambil proses syuting di tempat itu. Livi yang menjadi sutradara turun langsung memimpin proses syuting itu. "Pilih Blitar karena merupakan salah satu daerah bersejarah. Tidak hanya di Blitar, daerah lain di Jawa Timur (Jatim) juga ada. Memang kebanyakan di Jatim," terangnya lantas tersenyum.

Film The Santri itu dibintangi oleh anak muda, yakni Gus Azmi dan Firda Mansur. Putri dari ustad Yusuf Mansur. Bintang lainnya yakni Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak. Di film itu, mantan Bupati Trenggalek itu berperan sebagai ustad dan guru silat.

Dijadikannya Blitar sebagai salah satu latar syuting film The Santri itu diapresiasi Bupati Blitar Rijanto. Bupati bangga karena bisa mengangkat potensi wisata di Blitar. "Kami sangat berterima kasih kepada Mbak Livi ini. Semangatnya dalam mengenalkan budaya Indonesia luar biasa. Bisa menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya," ungkapnya.

Apalagi sebelumnya Livi juga membuat video Amazing Blitar pada 2017 lalu. Sebuah video dokumenter tentang eksplorasi budaya, tradisi hingga sejumlah tempat wisata yang ada di Blitar. Film itu dibuat langsung di Los Angeles (LA) Amerika Serikat dan launching di sana.

Hal senada juga diungkapkan Plt Wali Kota Blitar Santoso. Dia mengatakan, film karya Livi Zheng bertema kebudayaan itu wajib ditonton. Sebab, itu merupakan karya anak bangsa yang harus dihargai. "Generasi muda harus bisa mengikuti jejak Mbak Livi Zheng ini," terang perempuan yang juga martial artist.

Berkat film Bali: Beats of Paradise itu, kini Livi Zheng direkrut sebagai karyawan di perusahaan animasi The Walt Disney.

Kini penyuka nasi rawon dan nasi pecel itu juga aktif mengajar di 30 universitas di Amerika. Di antaranya di University of California-Los Angeles, Yale University, New York Film Academy, dan University of Southern California.

Livi telah memenangkan 26 piala dan medali dalam berbagai kejuaraan bela diri di Amerika Serikat. Salah satunya US Open. Livi mulai dikenal melalui filmnya Brush with Danger yang bermain dengan adik kandungnya.

Perempuan yang lahir di Malang itu sempat tinggal dan besar di Blitar. Kini di Blitar hanya tinggal nenek dan kakeknya. Setiap kali Hari Jadi Blitar, Livi selalu pulang kampung. Livi kini dikenal sebagai pemuda yang getol mempromosikan kebudayaan Indonesia ke luar negeri. Salah satunya mengenalkan budaya kampung halamannya sendiri, Blitar.

(rt/kan/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia