Senin, 26 Aug 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Ridwan Yunaedi, Bangkitkan Jiwa Seni Rupa

12 Agustus 2019, 09: 25: 40 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

KAMI ADA: Ridwan Yunaedi dengan lukisan surealisnya. Karyanya pernah diapresiasi sampai Amerika Serikat.

KAMI ADA: Ridwan Yunaedi dengan lukisan surealisnya. Karyanya pernah diapresiasi sampai Amerika Serikat. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Pertumbuhan komunitas seni rupa sepertinya masih minim di Bumi Menak Sopal.  Bahkan keberadaan seni nyaris tidak terdeteksi. Kendati begitu, hal tersebut tidak membuat Ridwan Yunaedi pantang menyerah. Sebagai perupa totalitas, dia senantiasa berada digarda depan untuk mengadakan pagelaran seni rupa.

DARAH seni sudah mengalir dalam diri Ridwan Yunaedi. Nenek moyangnya pernah menjadi tokoh masyarakat yang dikenal sebagai dalang. Namun, Ridwan Yunaedi menetapkan jalan lain untuk menjadi seniman. Dia memilih menjadi perupa. 

 Didik, sapaan akrab Ridwan Yunaedi menikmati dunia seni rupa. Itu berawal dari kepuasan hati ketika menggoreskan kuas dan bermain warna pada kanvas buatannya sendiri. Dia memilih berkarya pada waktu pagi sampai sore. Alasannya, pancaran warna dirasa berbeda ketika melukis saat malam hari. Untuk itu, dia memilih melukis saat pagi sampai sore agar warna yang ditimbulkan sesuai dengan angan-angannya. 

 Didik warga Desa Sugihan, Kecamatan Gandusari, selain dikenal sebagai perupa. Ternyata, dia juga secara total agar menjadi perupa yang obyektif. Itu terlihat ketika dirinya tidak menerima anak didik yang ingin menjadi perupa. Hal itu sengaja dilakukannya, karena dia sering diundang untuk menjadi juri dalam kegiatan seni rupa. “Dengan tidak menerima anak didik. Saya dapat menilai karya peserta secara objektif,” ungkap pria kelahiran 1965 itu.

  Pengalaman dirinya sejak 1984 terjun di bidang perupa. Timbul perasaan yang kuat untuk memunculkan eksistensi perupa di Trenggalek. Tujuannya agar masyarakat mengenal aliran-aliran seni rupa. Selain itu, seni rupa bisa dikenal bukan sebagai hal yang sepele, melainkan menjadi sesuatu karya yang memiliki nilai. Sehingga, ketika tahapan itu sudah terpenuhi, maka apresiasi karya akan timbul dengan sendirinya di mata masyarakat.

  Kala itu, sekitar tahun 2007 lalu, dia beserta dua rekannya menggagas Forum Perupa Trenggalek (FPT). Forum ini bertujuan untuk menjaring warga yang berminat pada bidang seni rupa. Awal merintis kendala yang sering muncul adalah pengeluaran dana untuk menggelar suatu pameran. “Dulu sering menyisihkan uang pribadi untuk mengadakan pameran rupa,” ujarnya.

 Namun pengaruh kegiatan pameran dinilai cukup menyita mata masyarakat. Buktinya setiap acara pameran yang digelar FPT, selalu mendapat antusisasme dari masyarakat. Tak ayal usai pameran selalu menarik minat orang untuk bergabung menjadi anggota FPT. “Kini pesertanya sekitar 36,” ujar perupa beraliran surealis tersebut.

 Dia tak memungkiri, apabila dukungan dari pemerintah kabupaten (pemkab) masih minim. Indikasnya di Kota Keripik Tempe belum ada gedung pameran sendiri. Padahal dengan adanya sarana tersebut mampu menarik seniman-seniman yang berada di Trenggalek. Hal itu berguna, sebagai wadah para seniman untuk bertukar pikiran. Sehingga, seni rupa di wilayah Trenggalek dapat berkembang. “Dari pertukaran ide para seniman, tentu kemajuan seni di wilayah ini bisa maju,” ungkapnya. 

 Pria lulusan Ikatan keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya ini berharap, kegiatan seni rupa semakin berkembang di wilayah Trenggalek. Sehingga masyarakat akan semakin tersadar dengan pentingnya apresiasi seni terhadap kemajuan seni rupa di Trenggalek. “Kegiatan pameran satu tahun sekali itu kurang, setidaknya dua bulan sekali perlu mengadakan pameran,” pungkasnya.  

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia