Selasa, 12 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Syukuran ala GKJW Tulungagung Atas Melimpahnya Hasil Bumi

12 Agustus 2019, 09: 34: 27 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SYUKURAN: Salah satu petugas GKJW Tulungagung mengangkat setandan pisang untuk dilelang ke umat, kemarin.

SYUKURAN: Salah satu petugas GKJW Tulungagung mengangkat setandan pisang untuk dilelang ke umat, kemarin. (DHARAKA R. PERDANA)

Seperti halnya umat beragama lain, umat Kristen yang tergabung di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) juga memiliki hari raya yang khas. Contohnya hari raya persembahan yang lazim disebut undhuh-undhuh. Pada kesempatan ini mereka mengucap syukur pada Tuhan atas melimpahnya hasil bumi.

 Suasana GKJW Tulungagung di Jalan I Gusti Ngurah Rai kemarin tampak lain dibanding biasanya. Jika biasanya pada Minggu pagi hanya ada kebaktian, namun kali ini ada hal yang berbeda. Di bagian depan gereja, tampak sebuah bangunan kecil yang berisi hasil bumi dan di dalam gereja pun juga ada sebuah tumpeng besar yang juga berisi hasil pertanian.

 Ya, di saat umat Islam menyelenggarakan Idul Adha, mereka juga melaksanakan hari raya undhuh-undhuh. Hari raya ini memang lain dibanding biasanya, karena mereka harus membawa hasil bumi untuk dibawa ke gereja. Mengingat inti dari hari raya ini, merupakan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 Pendeta GKJW Tulungagung, Libta Febriastuti mengatakan, perayaan ini juga diselenggarakan di setiap GKJW, meskipun waktunya jarang bersamaan.  Paara umat berkesempatan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas limpahan berkat berupa hasil bumi yang melimpah. “Makanya, pada hari raya ini identik dengan hasil bumi yang dikumpulkan umat dan dibawa ke gereja,” katanya.

 Menurut wanita 34 tahun ini, perayaan ini juga tidak terlepas dari pekerjaan mayoritas umat yang sebagai petani. Meskipun sebenarnya, yang berprofesi di luar bidang pertanian juga ada. Namun semua mengagungkan kemuliaan Tuhan atas rezeki berlimpah yang diberikan.

 Wanita kelahiran Kabupaten Malang ini mengakui, ada sisi unik yang ada dalam perayaan ini. Dimana seluruh petugas hingga umat yang datang, pasti mengenakan busana Jawa. Mengingat mereka memang hidup di lingkungan bernuansa Jawa. Dan yang terpenting mereka tetap ini menjadi mandiri dan menjadi berkat bagi orang lain. “Semua petugas dan umat pun mengenakan busana Jawa, tentunya ini memunculkan nuansa yang lain dibanding biasanya,” jelasnya sambil tersenyum.

 Hal senada diungkapkan Yos Ahadre, salah satu umat GKJW Tulungagung. Menurut dia, hasil bumi yang dibawa ke gereja pasti dilelang. Nantinya hasil yang didapat itu diserahkan untuk kepentingan gereja. Tak ayal, selalu ada kegembiraan dan keseruan yang muncul karena semua bersaing untuk mendapatkan hasil bumi tersebut untuk dibawa pulang. “Lelang hasil bumi ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Undhuh-undhuh. Nantinya, uang yang didapat diserahkan untuk kepentingan gereja,” terangnya.

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia