Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Melihat Aktivitas Baru Sejumlah Napi di Lapas Kelas IIB Blitar

Banyak yang Pesan Nasgor dan Capjay

16 Agustus 2019, 15: 37: 15 WIB | editor : Didin Cahya FS

PRODUKTIF: Aktivitas di warung bimker corner kemarin (14/8). Tampak beberapa napi sedang menyiapkan makanan.

PRODUKTIF: Aktivitas di warung bimker corner kemarin (14/8). Tampak beberapa napi sedang menyiapkan makanan. (M. SUBCHAN ABDULLAH/RADARTULUNGAGUNG.ID)

Di warung bimker corner itu sejumlah menu disajikan dan dijual. Konsumennya tidak hanya warga binaan, tapi juga pegawai hingga pengunjung. Semua menu dijual dengan harga miring.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH

Retno terlihat begitu sibuk menyiapkan sejumlah menu makanan dan minuman siang kemarin (14/8). Di warung berukuran 5 x 5 meter itu, proses memasak hingga penyajian dilakukan. Hari-hari Retno bersama warga binaan lainnya hampir dihabiskan di warung itu.

Usai makanan dan minuman yang disajikan, seorang warga binaan atau narapidana (napi) lainnya bertugas mengantar ke warga lapas yang telah memesan sebelumnya. Pesanan itu diantar ke selnya masing-masing. "Selain untuk warga lapas, juga untuk pegawai dan pengunjung," kata Retno sambil sibuk menyajikan pesanan saat ditemui di Lapas Kelas IIB Blitar, kemarin.

Aktivitas baru perempuan bernama lengkap Retno Galuh itu hampir berjalan satu bulan. Napi kasus narkoba asal Nganjuk itu kini semakin sibuk di warung itu bersama sejumlah napi lainnya. Di situ Retno bertindak sebagai sang koki.

Perempuan 48 tahun itu yang meracik bumbu, memasak, hingga menyajikan menu masakan sesuai pesanan. Dia dibantu seorang dua napi perempuan lain. "Ya, ini mereka semua napi dengan masa hukuman tinggi," ujar napi yang divonis 10 tahun pidana ini.

Dengan aktivitas barunya, Retno mengaku sangat senang. Sebab, itu bisa mengisi hari-harinya di lapas selama menjalani masa hukuman. Apalagi, belum ada setahun dirinya menjalani masa hukuman. "Kan ini masih lama 10 tahun. Kalo ada aktivitas seperti ini kan tidak nganggur," ungkap ibu tiga anak ini.

Belum lagi, aktivitas memasak itu seperti di rumah ketika berperan sebagai ibu rumah tangga. Makanya, Retno begitu bersemangat ketika bisa memasak. "Senang banget. Bisa melakukan aktivitas seperti di rumah," terang perempuan berjilbab ini.

Perempuan yang terseret kasus narkoba lantaran menjadi kurir sabu-sabu itu berharap, kegiatannya di lapas saat ini bisa bermanfaat bagi warga lapas lainnya dan pegawai lapas. Kelak ketika keluar dari lapas, dirinya sudah memiliki bekal keterampilan.

Sebab, selain napi bisa menyalurkan keterampilan sesuai bakat termasuk memasak, mereka juga diajarkan sejumlah keterampilan lainnya. "Saya di sini diajarkan juga menjahit, berkebun, hingga dilatih membuat kue. Jika keluar nanti, bekal yang saya dapat akan saya terapkan," harapnya, lantas tersenyum.

Ya, warung yang kini menjadi aktivitas sejumlah napi itu memang sengaja didirikan oleh lapas. Warung itu dibangun semipermanen di dalam kompleks lapas. Warung itu disebut bimker (bimbingan kerja) corner. Semua makanan dan minuman yang disajikan itu dijual.

Warung baru di-launching dan beroperasi akhir Juli lalu. Belum genap sebulan warung itu beroperasi, tapi sudah banyak warga binaan, pegawai lapas, hingga pengunjung kepincut masakan dari warung itu. "Awalnya warung ini hanya fokus bikin aneka kue. Tapi, warga binaan malah banyak yang pesan mi goreng, capjay, sampai nasi goreng," jelas Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan Pendidikan dan Kegiatan Kerja (Binadik Giaja) Lapas Kelas IIB Blitar Wahyu Tetuka.

Meskipun banyak yang pesan diluar menu yang disajikan, tetap dilayani. Mereka yang memesan itu kepincut dengan cita rasa nasi goreng, mi goreng, hingga capjay buatan warga binaan.

Apalagi, menu masakan tersebut dibanderol dengan harga miring. Jika dibandingkan dengan harga warung di luar, harganya selisih tipis. "Di sini (lapas, Red), mi goreng hanya Rp 6 ribu. Nasi goreng Rp 7 ribu," ujar Wahyu.

Ada tujuh napi yang mengelola warung atau bimker corner itu. Empat orang di antaranya perempuan dan sisanya laki-laki. "Yang laki-laki bertugas jadi kurir. Dia yang mencatat siapa saja warga binaan yang pesan makanan. Dia juga yang mengantarkannya," terang pria berkumis ini.

Lantas bagaimana mekanisme transaksi pembayaranya, jelas dia, dilakukan melalui register atau bagian pendaftaran pengunjung. Biasanya, uang-uang milik napi itu dikelola di situ. Uang itu adalah kiriman dari keluarga. Sesuai aturan, napi memang dilarang untuk membawa uang.

Nah, nantinya dari bagian register itu yang mengelola uang milik napi. Kini, uang untuk pembelian makanan dan makanan itu hanya dibatasi Rp 100 ribu. "Jika habis, nanti register tinggal memasukkannya lagi. Ke depan, pembayaran dilakukan nontunai. Pakai kartu kredit," ujar pria ramah ini.

Wahyu mengatakan, uang hasil penjualan itu masuk ke kas lapas. Uang itu akan dikelola dan diputar untuk tambahan modal. Sebagian juga dimanfaatkan untuk perbaikan sarana dan prasarana warung. "Jadi, modal bahan warung itu dari lapas. Warga binaan yang mengolahnya sekreatif mungkin," terang pria berkulit sawo matang ini.

Warung bimker corner itu merupakan inovasi dari Lapas Kelas IIB Blitar. Tujuannya tidak lain untuk menyalurkan bakat para warga binaan. Di situ warga binaan bisa berkreasi meracik makanan dan minuman.

"Ini kan berawal dari kerja sama kami dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Kediri. Yaitu dalam rangka pelatihan tentang pengolahan produk pertanian menjadi makanan. Khususnya tata boga dengan produk bermacam kue. Nah untuk bisa menerapkannya, didirikanlah bimker corner ini agar bakat warga binaan bisa tersalurkan," beber Wahyu.

Sejak beroperasi, omzet yang diperoleh hampir mencapai sejuta dalam sehari. Warung itu dibuka mulai pukul 07.30 sampai 14.30. Warung kini menjadi pusat kuliner dalam lapas. 

(rt/kan/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia