Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Sekolah Perempuan Dewi Sri, Ciptakan Produk Stik Sawi - Tempat Curhat

27 Agustus 2019, 11: 56: 26 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Sekolah Perempuan Dewi Sri, Ciptakan Produk Stik Sawi - Tempat Curhat

Melalui sekolah perempuan, ibu-ibu di Dusun/Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, diajarkan kewirausahaan, parenting, hingga kesehatan reproduksi. Mereka juga diajak membahas isu terkini masalah perempuan dan anak.

Sudah dua tahun ini garasi rumah Pamuji di Dusun/Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro dijadikan tempat bersekolah. Bukan untuk anak-anak, melainkan khusus untuk kaum ibu-ibu dan perempuan.

Tidak setiap hari mereka bersekolah. Namun, hanya setiap Selasa malam. "Mereka dari ibu-ibu sini (Dusun Gogodeso, Red). Pilih malam karena sudah tidak ada lagi aktivitas," kata Pamuji kepada Jawa Pos Radar Blitar saat ditemui beberapa waktu lalu di rumahnya.

Di garasi rumahnya itulah, para ibu dan perempuan diajarkan tentang kewirausahaan dan permasalahan sosial perempuan hingga anak-anak. Sejak Agustus 2017 lalu itu, Pamuji dan sejumlah ibu serta kader mendirikan sekolah tersebut.

Sebuah kelompok "belajar" yang diberi nama Sekolah Perempuan Dewi Sri, anggotanya kini mencapai 40 orang. Untuk mengisi materi pembelajaran, Pamuji bekerja sama dengan kelompok pegiat peduli perempuan dan anak dari Sahabat Perempuan dan Anak (Sapuan) Blitar.

Pendirian sekolah perempuan itu berawal dari pendampingan permasalahan perempuan dan anak di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, oleh Sapuan. Kala itu, munculah inisiatif untuk membuat sekolah perempuan.

Dengan tujuan, agar bisa mengatasi permasalahan yang dialami perempuan dan anak secara tuntas dari akarnya. "Akhirnya kami bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mendirikan itu. Saat mendapat respons positif dan desa setuju," ungkap Titim Fatmawati, inisiator Sekolah Perempuan tersebut.

Titim, sapaan akrabnya, mengungkapkan, konsep sekolah perempuan yang dijalankan yakni kemandirian dan kerelawanan. Peserta (anggota, Red) maupun pengurus mandiri membuat ide, merencanakan, dan melaksanakan kegiatan. "Di sini kami membantu menggali potensi mereka," jelas perempuan berjilbab ini.

Setelah dilakukan penggalian ide, akhirnya sepakat sekolah perempuan juga mengajarkan tentang kewirausahaan. Di samping belajar bersama tentang pemahaman hukum, permasalahan perempuan dan anak, parenting, serta kesehatan reproduksi, mereka juga diajarkan kewirausahaan.

Bahkan kini, di sekolah perempuan, para ibu sudah memiliki produk usaha unggulan yang diciptakan sendiri. Yakni produk kuliner berupa stik dan pastel sawi. Kini produk tersebut sudah memiliki izin usaha dan label P-IRT. Bahkan, kini juga memiliki jasa catering.

Hasil produksi kuliner camilan tersebut sebagian dimasukkan dalam kas. Sebagian lain digunakan untuk biaya operasional kegiatan sekolah perempuan. "Di situlah nilai kerelawanan terbentuk sesuai dengan konsep sekolah perempuan," kata Titim.

Selama ini, pengajar di sekolah perempuan adalah para relawan dari Sapuan. Mereka menyisihkan waktunya untuk mengajar sekaligus berbagi informasi mengenai isu perempuan terkini. "Relawan ini mengajar tanpa gaji," ujarnya.

Salah satu isu terkini yang diterangkan yakni tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Para ibu dan perempuan di desa tersebut diajak untuk mendukung segera disahkannya RUU tersebut.

Menurut dia, RUU tersebut akan menjamin kepastian hukum bagi korban. Mengatur usaha pencegahan kekerasan seksual dan melindungi korban dan saksi untuk mengakses keadilan.

Di samping mengajar tentang kewirausahaan hingga masalah perempuan dan anak, sekolah perempuan juga menjadi ajang curhat atau konsultasi bagi ibu-ibu. Konsultasi mengenai permasalahan anak hingga keluarganya. "Banyak juga yang konsultasi," ungkap perempuan murah senyum ini.

Titim berharap, dengan didirikannya sekolah perempuan tersebut, para ibu dan perempuan di desa tersebut bisa mengatasi permasalahan sosial terkait perempuan dan anak. "Mereka juga bisa melakukan pendampingan di lingkungan mereka sendiri," harapnya.

Ke depan, lanjut dia, sekolah perempuan juga bisa diterapkan di desa-desa lain di Blitar Raya. Harapannya bisa terjalin kerja sama dengan desa lain untuk mendirikan sekolah perempuan.

Pamuji yang menjadi pengurus sekolah perempuan itu juga berharap sekolah perempuan bisa membawa dampak positif bagi warga Desa Gogodeso. Terutama bagi kaum ibu dan perempuan. "Semoga sekolah perempuan ini bisa terus berlanjut dan berkembang," ungkap ibu 57 tahun ini.

Dulu, kata Pamuji, di empat dusun di Desa Gogodeso itu juga dibentuk sekolah perempuan. Namun seiring waktu, tiga di antaranya tidak begitu aktif. Hanya di Dusun Gogodeso saja yang aktif. "Akhirnya sampai sekarang semua dipusatkan di sini," tandas perempuan berkacamata ini.

(rt/kan/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia