Rabu, 16 Oct 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Berpotensi, Produksivitas Kakao Perlu Digenjot

07 Oktober 2019, 12: 52: 17 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TEKUN: Sejumlah siswa sedang belajar di Rumah Cokelat beberapa waktu lalu.

TEKUN: Sejumlah siswa sedang belajar di Rumah Cokelat beberapa waktu lalu. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Kesadaran petani di Bumi Menak Sopal dalam mengolah tanaman kakao sepertinya masih sangat terbatas. Indikasinya, masih jarang petani yang mau memproduksi fermentasi dari tanaman yang dalam bahasa latin disebut theobroma cacao ini. Indikasinya, pengolahan fermentasi kakao masih sebatas 10 persen saja. Padahal, fermentasi kakao tersebut mampu meningkatkan hasil para petani. “Mayoritas petani masih menjual kakao dalam bentuk gelondongan. Padahal jika diolah, hasilnya bisa meningkat dua kali lipat,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Susti Wulandari. 

Menurut dia, komoditas kakao di Trenggalek cukup luas karena lahan perkebunan kakao mencapai 3.810 hektare (Ha), itu pun tersebar di 14 kecamatan. Namun, produktivitasnya yang paling tinggi kini ada di Kecamatan Suruh karena produksinya mencapai 150,9 ton. “Komoditas kakao sebenarnya banyak, tapi hasilnya masih perlu dioptimalkan,” ujarnya. 

Wanita berhijab itu melanjutkan, pengoptimalan komoditas itu yakni dengan mengolah biji kakao dengan memfermentasikannya. Proses fermentasi itu pun tidak sulit, hanya perlu waktu sekitar seminggu. “Jika gelondongan hanya terjual Rp 10 ribu, kalau fermentasi bisa sampai Rp 20-35 ribu bisa,” katanya. 

Fungsi lain ketika para petani kakao mau memfermentasikannya. Petani bisa mengolah kakao menjadi permen atau bubuk cokelat. Dengan fermentasi itu juga, maka kualitas cokelat bisa terukur. “Kualitas cokelat itu bisa muncul ketika sudah difermentasi,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya menargetkan sekitar lima tahun ke depan, para petani di Trenggalek mulai mengubah kebiasaan untuk mengembangkan kakao fermentasi. “Sosialisasi dan pengembangan terus kami berikan kepada petani kakao,” katanya. 

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia