Rabu, 16 Oct 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Harga Ayam Terus Fluktuatif

07 Oktober 2019, 13: 05: 49 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BELUM STABIL: Handayani ketika membersihkan tempat minum di kandang ayam miliknya kemarin (6/10).

BELUM STABIL: Handayani ketika membersihkan tempat minum di kandang ayam miliknya kemarin (6/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

NGANTRU, Radar Tulungagung – Sejumlah peternak ayam kembali mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup. Bahkan, pada awal September lalu, harga ayam hidup sempat menyentuh titik terendah pada kisaran Rp 10.500 per kilogram (kg). Jika sebelumnya kenaikan harga ayam relatif cepat, kini relatif stagnan. “Biasanya perubahan harga itu cepat. Kemarin stagnan di harga Rp 10.500, baru pertengahan bulan geser Rp 12.500 per kg,” jelas Handayani, salah satu peternak ayam asal Desa Pinggirsari, Kecamatan Ngantru.

Dia melanjutkan, meski sempat berada pada harga terendah, jelang akhir bulan harga daging ayam mencapai Rp 16 ribu hingga Rp 17 ribu per kg. Kenaikan ini diperkirakan karena banyaknya peternak ayam mandiri yang tidak melakukan pengisian kandang. Ini membuat stok di pasaran berkurang sehingga harga pun kembali naik. “Tapi kondisi ini hanya bertahan empat hari. Setelah itu turun di kisaran Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu sampai sekarang,” imbuhnya.

Wanita paro baya ini mengungkapkan, rendahnya harga jual ayam hidup di pasar membuat sejumlah peternak mandiri enggan untuk melakukan pembibitan. Artinya, peternak memilih untuk mengosongkan kandang. Selain itu, dari informasi yang dia terima, terjadi pemusnahan bibit ternak ayam (day old chicken) atau DOC untuk menstabilkan kembali harga ayam.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah peternak ayam mengeluhkan tidak stabilnya harga daging ayam di pasaran sejak Juli lalu. Ketidakstabilan harga diperkirakan merupakan imbas dari kebijakan pemerintah untuk membuka keran impor daging ayam asal Brasil. Ini setelah Brasil mengadukan Indonesia pada Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) karena dianggap menghambat masuknya produk daging ayam ke dalam negeri. WTO pun memutuskan Indonesia wajib membuka keran impor daging ayam dari Brasil.

Meski belum ada peraturan resmi terkait kebijakan tersebut, dikhawatirkan itu memicu peternak lokal gulung tikar. Sebab, melimpahnya barang tidak diimbangi dengan permintaan pasar yang besar, akan membuat harga anjlok dan peternak merugi. Selain itu, tingginya biaya produksi juga kerap dikeluhkan peternak. Seperti harga DOC dan harga pakan yang relatif terus mengalami kenaikan. “Sekarang harga pakan Rp 8 ribu per kg, lalu DOC Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu. Padahal, biaya produksi paling besar ada di pakan,” terang Handayani.

Untuk itu, dia pun berharap agar pemerintah dapat membuat kebijakan yang tidak merugikan peternak. Terutama upaya untuk menstabilkan harga. Selain itu, jika benar kebijakan impor akan terlaksana, pemerintah diminta untuk membuat sejumlah regulasi yang tidak merugikan peternak lokal. Seperti menurunkan harga pakan dan harga DOC. Sehingga peternak lokal tetap dapat produksi dan bersaing dengan peternak yang lain. “Jadi kami masih bisa bersaing,” tandasnya. 

(rt/nda/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia