Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Pedagang Tak Terlalu Khawatir terkait Wacana Larangan Jual Migor Curah

11 Oktober 2019, 10: 25: 55 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BANYAK DIBURU : Minyak curah yang sedang dijajakan oleh Hartatik di kios miliknya, kemarin (10/10).

BANYAK DIBURU : Minyak curah yang sedang dijajakan oleh Hartatik di kios miliknya, kemarin (10/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

 KOTA, Radar Tulungagung — Rencana pemerintah pusat melarang penjualan minyak goreng (migor) curah per 1 Januari 2020 tampaknya tak begitu berdampak terhadap pedagang sembako. Buktinya, sejumlah pedagang mengaku kebijakan tersebut masih sebatas wacana saja. Hartatik, seorang pedagang sembako di Pasar Tradisional Ngemplak mengatakan, permintaan minyak goreng curah relatif aman, bahkan cenderung stabil. “Kemarin sempat dengar dari TV, tapi pelanggan juga masih tetap ada. Ya, saya sih tidak terlalu khawatir,” jelasnya.

Harga migor curah yang relatif lebih murah   dibandingkan dengan minyak kemasan menjadi alasan utama minyak tersebut lebih diburu. Terutama bagi mereka yang memiliki bisnis di bidang kuliner seperti ayam goreng dan gorengan. Per 1 kilogram (kg) migor curah, Hartatik menjual dengan harga Rp 12 ribu. Sementara migor kemasan ukuran 1 liter pada kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu.   

Meski dijual dengan harga murah, wanita paro baya ini mengaku tetap memperhatikan kebersihan minyak yang dijual. Salah satunya menyediakan tempat dan menyimpan di tempat bersih. Sehingga tidak terkontaminasi debu maupun bakteri. “Jadi, tempat-tempat minyak ini saya bersihkan terus supaya tetap bersih,” imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan Warni, pedagang migor curah lain. Warni Dia mengatakan,   jika benar pemerintah meresmikan larangan penjualan migor curah itu, tentu   akan menyulitkan pelaku usaha kecil. Sebab, biaya produksi menjadi bertambah. 

Untuk itu, dia berharap pemerintah memikirkan kembali kebijakan tersebut sebelum resmi disahkan. “Saya sih kurang setuju. Karena kasihan juga sama pengusaha kecil, untungnya sedikit,” jelasnya.

Dia pun menambahkan,   wacana larangan minyak goreng curah telah ada sejak dulu. Namun, hingga kini kebijakan tersebut masih sebatas tarik ulur. Untuk itu, selama belum ada keputusan resmi, pria paro baya ini akan tetap berjualan seperti biasa. “Ya, kita kami tunggu saja akan seperti apa,” tandasnya.

(rt/nda/dre/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia