Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Baru Terealisasi 60 Persen Dari Target CBP 20 Ribu Ton

14 Oktober 2019, 09: 27: 15 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BELUM PENUHI TARGET: Petugas melihat tumpukan beras di gudang Bulog. CBP tahun ini baru terealisasi 60 persen.

BELUM PENUHI TARGET: Petugas melihat tumpukan beras di gudang Bulog. CBP tahun ini baru terealisasi 60 persen. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Meskipun 2019 akan berakhir dua bulan lagi, pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) cabang Tulungagung baru tercapai 12 ribu ton. Padahal, tahun ini target CBP mencapai sebesar 20 ribu ton. Artinya, capaian tahun ini masih sebanyak 60 persen dari target.

Wakil Pimpinan Bulog cabang Tulungagung Eri Nurul Hilal mengatakan, kurangnya penyerapan CBP dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya berkurangnya produksi beras di tingkat petani hingga melonjaknya harga di pasaran. “Karena pada musim gadu atau musim kering seperti sekarang ini, tanaman padi mulai jarang dan diganti dengan tanaman lain. Jadi, harganya juga naik,” jelasnya.

Bahkan, kini, lanjut Eri -sapaan akrabnya- harga di pasaran mencapai Rp 9 ribu per kilogram (kg). Kondisi tersebut jauh jika dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp 7.300 per kg. Meskipun ada kebijakan 10 persen dari HPP, harga tersebut belum mampu menjangkau harga di pasaran.

Sementara untuk harga gabah kering panen (GKP) kini merangkak di angka Rp 5.500 per kg. Sedangkan HPP sesuai dengan inpres sebesar Rp.3.700 per kg. Sedangkan HPP untuk gabah giling kering (GKG) hanya sebesar Rp.4.600 per kg. Pria ramah ini menambahkan, pada musim kemarau seperti sekarang ini, rata-rata para petani enggan menjual gabah atau berasnya. Sebab, digunakan untuk stok ketahanan pangan di rumah. “Kalaupun ada yang mau jual, itu biasanya stok lama dan jumlahnya terbatas,” imbuhnya.

Terkait pemenuhan target penyerapan, setidaknya ada dua skema yang diterapkan Bulog. Yakni penyerapan sesuai dengan harga inpres dan skema penyerapan komersil. Dengan skema penyerapan komersil ini, Bulog membeli beras medium plus dan premium sesuai dengan harga pasar. Meski demikian, Eri mengaku tidak berani membeli dengan jumlah yang besar. Sebab, tetap harus disesuaikan dengan capaian penjualan beras medium plus dan premium. “Serapan beras komersil hanya 25 persen dari target tahun ini,” terangnya.

Meski masih memiliki PR 40 persen untuk capaian target tahun ini, Eri mengaku optimistis dapat mencapainya. Sementara untuk stok beras di gudang, hingga kini mencapai 17 ribu ton. Jumlah ini tersebar di lima unit gudang yang ada di wilayah kerja Bulog cabang Tulungagung. Eri mengatakan, stok beras di gudang merupakan hasil pengadaan 2019 dan sedikit sisa pengadaan dari 2018.

Dengan jumlah ini, dia memastikan jika stok beras masih aman hingga panen tahun depan. “Stok masih cukup sampai panen tahun depan dan space gudang kita juga masih ada untuk menyimpan pernyerapan sampai tahun depan,” tandasnya.

(rt/nda/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia