Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Saroni, Pedagang Pakan Burung yang Menjadi Pembuat Kostum Indian

14 Oktober 2019, 09: 49: 16 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN: Saroni sedang membuat kostum Indian Apache di rumahnya.

TELATEN: Saroni sedang membuat kostum Indian Apache di rumahnya. (AGUNG PRIYAMBODO/RATU)

Kostum untuk karnaval memang cukup dicari orang pada saat-saat tertentu. Saroni, warga Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, pun menangkap celah untuk menangguk rezeki. Ini cukup bisa membantu pendapatan keluarga agar dapur tetap mengebul.

Teriknya panas matahari musim kemarau begitu mencubit kulit. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan seorang pria yang asyik beraktivitas. Tangannya tampak terampil mengutak-atik beberapa bahan maupun aksesori untuk dirangkai menjadi sebuah kostum yang menarik.

Ya, dialah Saroni, warga Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut yang cukup dikenal sebagai pembuat kostum Indian Apache. Padahal, dalam kesehariannya dia hanyalah penjual pakan ikan. “Awalnya hanya coba-coba saja untuk mengisi waktu luang,” katanya saat Koran ini mampir ke kediamannya.

Pria 35 tahun ini mengaku mulai menggeluti usaha itu pada awal September 2016. Semua hanya bermodal kenekatan karena tanpa ada dasar di dunia pembuatan kostum. Tak ayal, dia pun sempat mendapat komplain dari sang istri karena dianggap menyita waktu dan mengganggu pekerjaannya. “Pada awalnya mendapat complain dari istri. Setelah jadi dan hasilnya bagus, akhirnya istri saya luluh juga dan membiarkan sampai sekarang,” imbuhnya.

Ketertarikan membuat kostum karnaval Indian Apache karena ada keunikan tersendiri daripada kostum karnaval yang lain. Apalagi dirinya juga senang melihat orang-orang yang ikut karnaval memakai baju yang identik dengan bulu unggas itu.

Setelah mencari referensi ke sana ke mari, dia melihat celah untuk dijadikan bisnis. Dengan modal hanya sekitar dua jutaan dia membeli kain flanel, bulu ayam, lem, serta manik-manik. Selain itu, dia juga memanfaatkan limbah bekas konveksi. “Untuk model, saya melihat dari internet atau meniru topi Indian Apache yang saya beli sendiri dari tempat penyewaan kostum,” jelasnya.

Meskipun terlihat gampang, ayah dua putra ini terkadang juga menemukan kesulitan dalam pembuatan kostum. Khususnya saat membuat bagian sayap punggung belakang. Selain prosesnya lama, dia juga harus telaten karena proses pembentukan sayap seperti burung sangat sulit dan dia mau menonjolkan ciri khasnya sendiri untuk membedakan karya miliknya dengan orang lain.

Untuk harga sewa, dia membanderol Rp 2,5 juta rupiah untuk satu paketnya yang terdiri dari 30-45 orang. Namun, itu hanya ramai saat musim karnaval seperti Agustus sampai September. “Yang penting saya harus terus berinovasi agar konsumen tidak jera,” akunya.

Disinggung untuk perawatan kostum, setiap tiga bulan sekali diberi obat pembunuh serangga. Alasannya, agar bulu ayam tidak rusak dan untuk bagian bajunya disimpan di lemari dan diberi kapur barus. “Saya belum berniat menjualnya. Sementara ini masih dalam taraf penyewaan saja karena terkendala pemasaran,” tandasnya. 

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia