Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Taryaningsih, Peraih Juara III Lomba Keahlian Guru Tingkat Nasional

Kejuruan SMK dan Guru Keterampilan SLB

14 Oktober 2019, 10: 41: 27 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

DI LUAR DUGAAN: Tary (paling kiri) memperlihatkan plakat juara III yang diraihnya ketika mengikuti perlombaan tingkat nasional.

DI LUAR DUGAAN: Tary (paling kiri) memperlihatkan plakat juara III yang diraihnya ketika mengikuti perlombaan tingkat nasional. (TARY FOR RADAR TRENGGALEK)

Menjadi seorang guru pendidikan khusus layanan khusus (PKLK) bukan berarti tidak boleh mempelajari bidang keahlian lainnya. Inilah yang dilakukan oleh Taryaningsih. Kendati menjadi guru PKLK di Trenggalek, dia sedikit banyak menguasai mata pelajaran (mapel) kesenian hingga meraih juara III pada lomba keahlian guru kejuruan SMK dan guru keterampilan sekolah luar biasa (SLB) tingkat nasional.

Senin (1/10) hingga Sabtu (5/10) lalu, mungkin suatu hal yang tidak pernah dilupakan oleh Taryaningsih. Betapa tidak, tanpa disangka-sangka dirinya berhasil meraih juara III pada Lomba keahlian guru kejuruan SMK dan guru keterampilan SLB tingkat nasional yang dilaksanakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal itu lebih berkesan dibanding penghargaan lain yang pernah diraihnya. Apalagi prestasi yang diraihnya kali ini di bidang seni rupa dan kriya yang bukan keahliannya.

Sehingga ketika mengikuti perlombaan tersebut, dirinya sedikit kesulitan menjawab pertanyaan terkait kesenian. Sehingga apapun yang dijawab cuma sebatas pemahaman yang diketahuinya. Itu pun belum diketahui kebenarannya. “Jika guru yang dulunya memang benar-benar dari bidang kesenian, pasti tidaklah sulit untuk menjawabnya. Namun saya kan dari pendidikan luar biasa (PLB) makanya merasa kesulitan,” ungkap Taryaningsih ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek, Jumat (11/10) lalu.

Sebenarnya, pada perlombaan tersebut bukan hanya dirinya yang merasa kesulitan. Dari sekitar 900 guru PKLK yang mendaftar, hanya dipilih 90 guru yang berhak mengikuti acara final yang berlangsung di salah satu hotel wilayah Kota Bandung, Jawa Barat. Jumlah tersebut dibagi menjadi beberapa kategori yang berisi 15 guru. Sedangkan untuk perlombaan kategori seni rupa dan kriya hanya dua guru yang merupakan lulusan seni rupa. Sebab, ada dua SLB yang untuk mapel kesenian benar mengambil guru yang linier. “SLB pada umumnya, termasuk di sini (Trenggalek, Red), ketika mapel kesenian biasanya mengundang guru dari luar yang mengajarinya dalam bentuk ekskrakurikuler. Makanya secara otomatis tidak memiliki guru kesenian tetap,” ungkapnya.

Ketika mengikuti hari pertama perlombaan, dirinya dan 12 peserta lain merasa kesulitan menjawab pertanyaan dari juri tentang kemampuan bidang seni rupa dan kriya. Sebab, pada saat itu yang diujikan seputar kesenian, seperti ciri-ciri kesenian seperti aliran seni Prancis, seni terapan, simbol-simbol batik, dan sebagainya. Dari situ, mayoritas peserta menjawab pertanyaan dari juri berdasarkan logika. Kendati demikian, pertanyaan yang dilontarkan para juri tersebut tidak terlalu berarti bagi peserta memang berlatar belakang pendidikan seni.

Dari situ, perlombaan dilanjutkan pada hari kedua, menggambar dua desain. Yaitu menggambar sketsa dengan kertas ukuran A3 sebanyak dua lembar yang dilanjutkan dengan menggambar kanvas. Namun, saat itu mayoritas guru-guru SLB memiliki pengertian yang berbeda. Sebab, mayoritas yang dimengerti adalah keterampilan membatik sehingga ketika mengikuti perlombaan, banyak yang membawa alat-alat untuk membatik. Seperti canting, malam lebah, dan sebagainya. Namun kenyataannya, hanya menggambar batik pada kanvas.

Saat itulah, dirinya memaksimalkan perlombaan tersebut dengan menggambar batik difabel. Hal itu dilakukan untuk membedakan batik yang digambar, berbeda dengan batik peserta lainnya. Tak ayal, itu menimbulkan kesan yang berbeda di hadapan para juri. “Saat itu saya cukup lega. Namun ketika berkumpul dan berbincang-bincang peserta lain, siapa juara satu dan dua sudah kelihatan dan semua saling menebaknya. Namun, untuk juara tiganya masih menjadi tanda tanya,” jlentreh wanita yang akrab disapa Tary ini.

Setelah itu, hari demi hari perlombaan dilalui, hingga di hari terakhir yang paling menentukan. Seluruh peserta diminta untuk memperagakan dalam mengajar mapel kesenian kepada murid SLB. Dari situ, diundanglah murid-murid dari SLB terdekat untuk peragaan mengajar peserta. Namun tantangannya, murid SLB yang diajar memiliki dua ketunaan yang berbeda, yaitu tunarungu dan tunagrahita. Dari situlah beberapa peserta mengalami kendala dalam melakukan pembelajaran.

Sebab, peserta jarang ada yang bisa mengajar dua ketunaan tersebut. Sebab, setiap ketunaan memiliki tingkat kesulitan tertentu. Sehingga ada peserta yang hanya bisa memberi pengajaran pada siswa tunarungu, tapi tidak bisa dengan siswa tunagrahita maupun sebaliknya. “Untuk tantangan ini, saya tidak memiliki kesulitan dan bisa melakukannya karena setiap harinya sudah terbiasa mengajar siswa di tiga ketunaan. Yaitu tunarungu, grahita, dan daksa,” ujar guru SLBN Panggungsari, Durenan ini.

Tak ayal, itu memberi tambahan nilai yang berarti bagi Tary dalam perlombaan tersebut hingga berujung pada raihan juara tiga. Apalagi dia sadar betul jika dua peserta lain memang berasal dari seni. “Ketika pengumuman pemenang, yang pertama dipanggil adalah juara tiga. Makanya saya sedikit kaget dan bangga terkait pencapaian ini. Semoga saja ini bisa menjadi pelecut untuk mengikuti perlombaan lainnya,” jelas warga Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek ini.

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia