Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Berharap Hujan, Warga Karangan Gelar Salat Istiqa’

21 Oktober 2019, 10: 48: 46 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

NGANTUK: Seorang bocah Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, menguap lebar saat mengikuti salat Istiqa’ di lapangan desa setempat, kemarin (20/10).

NGANTUK: Seorang bocah Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, menguap lebar saat mengikuti salat Istiqa’ di lapangan desa setempat, kemarin (20/10). (DHARAKA R PERDANA/RATU)

KOTA, Radar Trenggalek - Sedikitnya ada 3.000 warga ikut menunaikan gelaran salat Istisqa’ di lapangan Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, kemarin siang (20/10). Salat itu sebagai salah satu upaya untuk memohon kepada Sang Pencipta agar hujan segera turun. 

Kepala Desa (Kades) Kerjo, kecamatan setempat, Rebo mengatakan, tradisi salat Istiqa’ telah lama hilang. Rebo teringat, salat itu terakhir dilaksanakan sekitar abad ke-19. Esensi pelaksanaan salat Istiqa’ yakni memohon kepada Sang Pencipta agar segera menurunkan hujan.

“Sejak tujuh bulan ini, wilayah Trenggalek khususnya Desa Kerjo dilanda kekeringan. Tumbuhan tidak tumbuh subur. Panen jagung tak maksimal lantaran kurang air,” ungkap pria ramah itu. 

Dia melanjutkan, jamaah yang mengikuti salat mulanya sebatas Desa Kerjo, Kecamatan Karangan. Namun, jamaah itu semakin membeludak karena warga dari desa lain pun banyak yang ikut berjamaah. Rebo tak heran karena kekeringan tidak hanya melanda desanya, tapi juga desa-desa tetangga. Alhasil, lapangan pun penuh para jamaah yang hendak menunaikan salat Istiqa’. 

“Tadi juga ada warga NU, seluruh warga Desa Kerjo, dan warga dari Kecamatan Tugu saat menunaikan salat Istiqa’,” ujarnya. 

Prosesi menunaikan salat untuk memohon turunnya hujan itu dimulai pukul 11.00. Menurut dia, salat permohonan hujan ini memang dilakukan saat tengah hari. Di bawah terik sinar matahari, kekhusyukan para jamaah pun mampu mengalahkan rasa celekit sengatan matahari di kulit. 

“Jamaah tidak merasa kepanasan meski mengikuti serangkaian acara di bawah teriknya matahari,” ungkapnya.

Usai menunaikan salat Istiqa’, para warga juga mengikuti tradisi tiban. Esensi dari pagelaran tiban juga bertujuan memohon turunnya hujan ke Sang Pencipta kendati dibungkus secara adat atau tradisi. “Kami semua punya harapan yang sama, yakni hujan segera turun dan tumbuhan pun bisa tumbuh subur,” pungkasnya.

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia