Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Sebelum Tertabrak Bus, Steven Sempat Minta Dibelikan Es Krim

21 Oktober 2019, 11: 03: 01 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

FOTO KENANGAN: Momen-momen terakhir antara Ayah dengan mendiang Steven Angelo.

FOTO KENANGAN: Momen-momen terakhir antara Ayah dengan mendiang Steven Angelo. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Steven Angelo, meninggal dunia di usia 3,5 tahun. Dia meninggal lantaran sempat terlindas ban bus PO Harapan Jaya di simpang tiga Jarakan, Kelurahan Karangsoko, Kecamatan Kota, Sabtu pagi (19/10). Steven meregang nyawa saat perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo, Surabaya. Tepatnya saat melalui Kecamatan Ngadiluwih, Kediri.

Suasana berkabung masih cukup terasa di kediaman Untung Suwondo. Di bawah traffic light simpang tiga Jarakan bagian selatan, masuk RT 20/RW 05, Kelurahan Karangsoko, kecamatan kota. Satu per satu orang bergiliran hadir untuk menyatakan ikut bela sungkawa atas meninggalnya mendiang Steven Angelo kepada Untung Suwondo. 

Sabar... sabar, ungkapan empati yang sering dikatakan kepada Untung Suwondo. Tak sedikit pula Untung -panggilannya- membalas ungkapan itu dengan mengangguk sesembari menyembunyikan wajah sedih karena ditinggal buah hatinya. Untung pun mengaku masih mengalami shock therapy pascakejadian tersebut. Pria bermata sipit itu masih sensitif ketika ada pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kejadian yang menimpa anak bungsunya tersebut.

“Saya masih kerja waktu itu,” ungkap ayah Steven Angelo. Sekitar pukul 09.30, Untung masih bekerja di Toko Moro Seneng. Dia mendapat kabar melalui telepon apabila anaknya ditabrak. Angan-angan Untung, anak sulungnya yang ditabrak karena dia sudah biasa membawa motor. Dia tidak punya pikiran bahwa ternyata anak bungsunya yang ditabrak. 

“Saya tak punya firasat sama sekali, saya pikir yang ditabrak itu anak sulung saya,” ujar pria berkulit putih tersebut. 

Untung pun bergegas mendatangi lokasi kejadian untuk mengecek kondisi anaknya. Dia pun lemas ketika melihat neneknya juga berada di lokasi. Mulai saat itu, dia menduga jika yang ditabrak adalah anak bungsunya. 

Tak pelak, Untung pun tak tega melihat kondisi ketiganya mengalami luka berat pada bagian perut. Saat itu kondisi Steven masih sadar meski kondisinya memprihatinkan. Petugas medis dan polisi pun mengevakuasi anak Untung. 

Steven sempat dirawat di RSUD dr Soedomo. Namun lantaran kondisi Steven amat parah, rumah sakit itu pun tidak bisa menanganinya. Begitu juga RSUD dr Iskak, juga tidak bisa menanganinya. Harapannya pun kini tinggal RSUD di Malang atau Surabaya. Sampai akhirnya Steven pun dirujuk ke RSUD dr Soetomo. “Dengan luka parah seperti itu, anaknya masih ada kesadaran meski akhirnya itu tak berlangsung lama,” katanya dengan raut wajah sendu. 

Di tengah perjalanan menuju RSUD dr Soetomo, Surabaya, kesadaran Steven mulai menurun. Hingga akhirnya dia meregang nyawa. Untung pun tak kuat menahan tetes air matanya saat melihat anak bungsunya meninggal dunia. Dia pun membuat keputusan untuk kembali ke rumah untuk memakamkan anaknya. “Rencananya steven tahun depan mau masuk ke taman kanak-kanak (TK). Mengingat tahun depan umurnya sudah empat tahun,” ungkapnya. 

Untung pun tidak begitu mengerti kronologi secara pasti kejadian yang menimpa Steven. Namun neneknya bercerita, Steven meminta untuk dibelikan es krim. Neneknya pun membelikan es krim di utara simpang tiga Jarakan. Dia menggandeng tangan Steven dan bersama-sama menyeberang.

Namun, tak disangka bus dari arah barat secara perlahan melaju dan menabrak kedua pejalan kaki. Neneknya sempat terpental dan menyadari tangan mungil Steven tak lagi digenggamnya. Saat mencari-cari cucunya, kondisi Steven sudah memprihatinkan.

“Steven biasa meminta es krim dan biasanya membeli es krim di dekat-dekat situ,” ungkapnya. (ed/tri)

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia