Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Pasar Ikan Bandung Ancang-Ancang Bakal Dipindah Pada 2021

21 Oktober 2019, 11: 27: 31 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

PENCEMARAN LINGKUNGAN: Salah seorang warga Desa/Kecamatan Bandung menunjukkan sumur air di sekitar Pasar Ikan Bandung. Aktivitas jual-beli Pasar Ikan Bandung sebabkan sumur warga tercemar.

PENCEMARAN LINGKUNGAN: Salah seorang warga Desa/Kecamatan Bandung menunjukkan sumur air di sekitar Pasar Ikan Bandung. Aktivitas jual-beli Pasar Ikan Bandung sebabkan sumur warga tercemar. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

BANDUNG, Radar Tulungagung – Semrawutnya kondisi Pasar Ikan Bandung menimbulkan sejumlah masalah. Salah satunya pencemaran lingkungan. Hal ini membuat Pemkab Tulungagung berencana memindahkan pasar yang menjadi pusat perdagangan ikan terbesar di wilayah Jawa Timur ini. Bupati Tulungagung Maryoto Birowo dalam kunjungan kerjanya di Desa/Kecamatan Bandung pada Rabu (16/10) lalu mengatakan, pemindahan akan dilakukan setelah bangunan pasar ikan yang baru selesai dibangun. “Ini sedang kami siapkan lokasinya dan tahun depan mulai dibangun. Mudah-mudahan pada 2021 sudah bisa pindah,” jelasnya.

Rencananya, pasar ikan yang baru akan dipindah di Desa Suwaru, Kecamatan Bandung. Lokasi ini dinilai lebih ideal dan strategis. Alasannya, cukup jauh dari permukiman warga sehingga dapat meminimalisasi pencemaran lingkungan. Tak hanya itu, untuk merehabilitasi air di sekitar pasar ikan, pemkab berencana menguras dan menyedot air limbah di pasar ikan. Penyedotan ini nantinya dilakukan setiap hari menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Penyedotan kami lakukan tiap hari sehingga masyarakat yang komplain akan berkurang,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bandung Wiji Astuti menyambut baik rencana pemindahan Pasar Ikan Bandung. Sebab, banyak dari warganya yang mengeluh air sumur tercemar dan tidak layak untuk dikonsumsi. “Tentunya ini rencana yang bagus karena banyak air sumur warga yang tercemar karena aktivitas jual beli di pasar ikan,” jelasnya.

Wiji menambahkan, selain mencemari air sumur, pengelolaan limbah dan sampah yang belum maksimal membuat udara di sekitar pasar hingga rumah warga tak sedap. Terlebih ketika memasuki musim penghujan. Selain air tidak dapat terserap dengan baik, bau amis dari limbah pasar ikan pun kian menyengat. “Belum lagi kalau hujannya intensitas tinggi, bisa banjir dan itu ke rumah warga. Air yang tercemar ditambah banjir, baunya semakin tidak karuan,” imbuhnya.

Selain permasalahan pencemaran lingkungan, wanita berhijab ini mengeluhkan jam operasional pasar ikan yang tidak jelas. Dia mengatakan, dulunya Pasar Ikan Bandung atau warga sekitar lebih mengenal dengan istilah Pasar Subuh, hanya beraktivitas pada pukul 01.00 dini hari hingga 07.00 pagi hari. Namun kini, seiring berkembangnya pasar dan meningkatnya aktivitas jual-beli, pasar ikan beroperasi hampir 24 jam dalam sehari. Kondisi ini tentu berdampak pada Pasar Bandung (pasar reguler). “Banyak warga yang akhirnya beralih ke Pasar Subuh (pasar ikan) daripada belanja di pasar utama. Kan kasihan juga pedagang di sana, harus ada penataan jam operasional yang jelas,” urainya.

Hal senada juga disampaikan Diranto, salah satu warga Desa/Kecamatan Bandung. Dia bahkan harus rela menjual ruko miliknya yang berada di Pasar Bandung. Sebab, dia sudah tidak tahan dengan bau tak sedap dari pengolahan limbah pasar ikan yang buruk. “Baunya sangat menyengat. Akhirnya ruko di pasar saya jual karena pelanggan juga makin sepi,” jelasnya.

Dia berharap pemkab segera merealisasikan janjinya untuk melakukan pemindahan Pasar Ikan Bandung. Sebab, jika dibiarkan, bukan tidak mungkin pencemaran lingkungan akan semakin meluas dan warga yang terdampak kian banyak.

(rt/nda/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia