Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Pendidikan

Ajak Santri Handarbeni Jawa dan Islam

23 Oktober 2019, 10: 26: 22 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

LAIN DARIPADA YANG LAIN: Empat santri putra Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah membaca buku ngaji sebelum dibimbing ustad, kemarin (22/10) sore.

LAIN DARIPADA YANG LAIN: Empat santri putra Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah membaca buku ngaji sebelum dibimbing ustad, kemarin (22/10) sore. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Santri mengaji dengan memakai baju koko tentu hal yang biasa. Namun, apa jadinya jika mereka memakai busana tradisional Jawa berupa beskap dan blangkon? Tentu suasananya jadi berbeda karena seolah-olah kembali ke zaman dulu ketika agama Islam sedang diperjuangkan para waliyullah maupun ulama.

Hal inilah terlihat ketika Koran ini mendatangi Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, kemarin (22/10). Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2019, seluruh santri yang mengaji diminta memakai busana tradisional Jawa. Bahkan saat pengajian berlangsung pun menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar.

Ketua Yayasan LPI Zumrotus Salamah, Muhammad Abdillah Subkhi mengatakan, aktivitas ngaji seperti ini berlangsung sejak empat tahun lalu. Seluruh santri yang menyecap ilmu agama di sini diharapkan memakai busana Jawa pada Senin dan Selasa. Tentunya ini mengingatkan generasi muda jika mereka adalah orang Jawa seutuhnya. “Kami ingin para santri merasa handarbeni (memiliki seutuhnya) sebagai orang Jawa yang beragama Islam. Yang penuh dengan subasita lan tata karma,” katanya kepada awak media.

CARI ILMU: Santri putri berjalan menuju masjid untuk mengaji

CARI ILMU: Santri putri berjalan menuju masjid untuk mengaji (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Abdillah, sapaan akrabnya menambahkan, sebelum menerapkan hal tersebut, pihaknya terlebih dulu menyosialisasikan kepada orang tua santri. Nyatanya tidak ada yang menolak dan sangat menyetujui. Apalagi di dalamnya juga diberi pembelajaran mengenai pentingnya unggah-ungguh saat bertemu orang lain. “Selama pengajian menggunakan bahasa Jawa. Di satu sisi, siswa diberi pelajaran jika kepada yang tua harus menggunakan krama inggil dan dengan rekan sebaya menggunakan ngoko,” tambahnya.

Untuk pembelajaran, tidak ada bedanya dengan madrasah diniyah pada umumnya. Seluruh santri tetap diberi materi pengajian sesuai jenjang mereka. “Materi yang diberikan merupakan hal yang umum ditemukan di madrasah diniyah. Yang terpenting, mereka tidak melupakan akarnya sebagai orang Jawa,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah, Zainud Dini Mukhlishoti. Menurut dia, dalam seminggu, santri diwajibkan memakai busana Jawa pada Senin dan Selasa. Meskipun, lingkungan Desa Tawangsari berkiblat ke Keraton Yogyakarta Hadiningrat, pengelola madrasah membebaskan siswa untuk memakai busana tradisional Jawa dengan model apa saja. “Yang penting mereka berbusana tradisional. Sehingga ada yang memakai blangkon model Jogja, Solo, dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Hilaqul Bariq, salah seorang santri mengaku senang dengan aturan madrasah untuk memakai busana Jawa. Apalagi dia tetap bisa mengaji dengan tenang seperti biasanya. Terlebih dia juga diajak untuk belajar unggah-ungguh sebagai orang Jawa yang dilihat dari tata cara berbicara. “Saya senang dengan hal demikian. Karena selain mengaji, juga bisa belajar mengenai subasita sebagai orang Jawa,” akunya. 

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia