Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Blitar

Ribuan Santri Ponpes Mambaus Sholihin Gelar Tasyakuran dan Doa Bersama

23 Oktober 2019, 10: 37: 46 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SYIAR ISLAM: Pimpinan Ponpes Mambaus Sholihin Muhamad Al Amin, SPdI, MM, menerbangkan rangkaian balon sebagai tanda peringatan Hari Santri.

SYIAR ISLAM: Pimpinan Ponpes Mambaus Sholihin Muhamad Al Amin, SPdI, MM, menerbangkan rangkaian balon sebagai tanda peringatan Hari Santri. (MAMBAUS SHOLIHIN FOR RADAR BLITAR)

SANANKULON, Radar Blitar – Beragam kegiatan dilakukan untuk mengisi Hari Santri tahun ini. Selain apel dan parade santri, ada juga yang menggelar tasyarakuran. Seperti dilakukan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin. Bukan sekadar uforia, momen ini sekaligus sebagai pengingat peran penting santri dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak pagi, ribuan santri dan undangan mengikuti apel peringatan Hari Santri di lapangan Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, kemarin (22/10). Sekitar pukul 09.00, para santri kembali ke ponpes untuk tasyakuran.

Kendati masuk dalam kategori pondok modern, bukan makanan mewah yang menjadi hidangan. Sebaliknya, makanan sederhana yang sudah sangat populer, yakni mi instan. Pun begitu, ribuan para santri ini tampak menikmati.

Pimpinan Ponpes Mambaus Sholihin Muhamad Al Amin, SPdI, MM mengatakan, ponpes memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh.

Tidak hanya memberikan bekal agar siap menghadapi perkembangan zaman, juga memberikan keterampilan agar mampu bersaing setelah keluar dari ponpes nanti. “Kami berusaha maksimal untuk memberikan fasilitas dan sarana terbaik kepada santri karena kami tahu pentingnya kaderisasi,” katanya.

Ya, lulusan pesantren tidak hanya dituntut mengusai ilmu agama, tapi juga paham teknologi. Sehingga syiar islam bisa seiring sejalan dengan perkembangan peradaban manusia.

Gus Amin, sapaanya, menyebut ada banyak kelebihan yang dimiliki oleh pesantren. Misalnya, lingkungan majemuk. Pesantren diisi santri-santri dari berbagai daerah yang berbeda adat karakter hingga bahasa. Hal ini menjadi modal baik bagi santri ketika terjun di masyarakat. Sebab ketika mondok, mereka sudah terbiasa dengan lingkunan yang berbeda-beda. “Pesantren itu Bhinneka Tunggal Ika. Di pondok kami ada santri yang dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua, ini bagus untuk modal hidup bermasyarakat nanti,” tuturnya.

Dia menyayangkan aksi radikalisme yang membawa-bawa agama. Mulai dari menghujat, mencaci, dan seabreg tindakan keras lainnya bukanlah santri.

Menurut dia, santri adalah kaum intelektual yang cinta kebaikan dan berjuang mencari rida Allah. “Santri itu sangat paham bahwa yang memiliki kewenangan mengadab dan menghukum adalah Allah,” tutunya.

Gus Amin bersyukur, pemerintah mulai memberikan perhatian kepada santri atau lingkungan pesantren. Tidak hanya menetapkan peristiwa revolusi jihad sebagai Hari Santri, tapi juga menetapkan undang-undang pesantren yang diyakini bakal memberikan ruang dan kesempatan lebih baik bagi para santri. “Kami rasa itu sebagai apresiasi atas peran para santri dulu, sekaligus penyemangat dan tantangan bagi generasi yang akan datang,” tutupnya sembari mengungkaplan akhir tahun ini, ponpes mambaus sholihin sudah membuka pendaftaran bagi santri baru tahun ajaran 2020/2021.

Pria ramah ini juga mengharap dukungan masyarakat, karena bakal mewakili blitar pada pekan olahraga dan seni antar pondok pesantren tingkat daerah (pospeda) jatim untuk ektrakurikuler pramuka dan pokestren. “ mudah mudahan mendapat ridho allah sehingga bisa membawa nama baik daerah,” harapnya.

Peringatan hari santri ini digelar dalam rangkaian haul yang ke 4, pendiri ponpes Mambaus Sholihin, K.H  Misbahuddin Achmad.  Selain itu, setiap tahun para Rabu pungkasan atau terakhir di bulan shafar (tadi malam,red) ponpes ini juga konsisten menggelar doa bersama agar dijauhkan dari musibah. Doa para jamaah yang hadir di jamiah nariyah ini sebagai penutup rangkaian haul ke 4 K.H  Misbahuddin Achmad.

Peringatan Hari Santri ini digelar dalam rangkaian haul ke-4 pendiri Ponpes Mambaus Sholihin, KH Misbahuddin Achmad.

Selain itu, setiap tahun pada hari Rabu pungkasan atau terakhir di bulan Safar (kemarin malam, Red) ponpes juga konsisten menggelar doa bersama agar dijauhkan dari musibah. 

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia