Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Pengalaman Wahid Bacharudin di Bidang Perkulitan

23 Oktober 2019, 10: 41: 07 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN: Wahid sedang menunjukkan proses penjahitan sepatu kulit di bengkel kerjanya.

TELATEN: Wahid sedang menunjukkan proses penjahitan sepatu kulit di bengkel kerjanya. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Bermodal belajar seni perkulitan di salah satu kampus di Jogjakarta, Wahid Bacharudin bercita-cita dapat membuat branding usaha kulit di Bumi Menak Sopal. Dua tahun berjalan, usaha kulit Wahid Bacharudin berjalan mulus. Pemasarannya pun sudah mencapai luar negeri.

Berbagai warna kulit olahan lembaran terjembreng di depan garasi kerja Wahid Bacharudin. Dari warna yang tua hingga yang muda, terselip di sela-sela tumpukkan kulit lembaran tersebut. Tak ada kulit yang kaku di tumpukan kulit itu, tapi hanya yang bersifat elastis dan tertata rapi.

Wahid, apaan akrabnya mengaku selalu menyortir kulit-kulit sebelum digunakan. Penyortiran itu dengan memilah-milah kulit yang paling jarang digigit kutu karena bisa menimbulkan cekungan yang berukuran tiga sentimeter persegi. Model gigitannya pun menyerupai bulatan. “Penyortiran kulit dari gigitan kutu itu penting karena tidak ada cara lain untuk menyembunyikan bekas gigitan kutu tersebut. Alhasil, bekas gigitan tetap ditemukan kendati kulit sudah diolah menjadi barang bernilai,” katanya memulai obrolan.

Mayoritas kulit yang digunakan home industry Wahid yakni kulit dari sapi Bali dan Jawa. Perbedaan kedua kulit itu terletak pada kualitas dan harganya. Kualitas kulit sapi Jawa lebih unggul daripada kulit sapi Bali. Namun, harga kulit sapi Jawa lebih mahal.

Bukan hal yang mengherankan, pengetahuan Wahid begitu memahami seluk-beluk dunia perkulitan. Tiga tahun lamanya dirinya mempelajari seni perkulitan di Jogjakarta. Di kampus itu dia belajar seluk-beluk kulit, berikut cara pengolahan menjadi benda yang bernilai jual. 

Selama menjalani perkuliahan dari tahun 2010-2013, ayah satu anak itu bercita-cita punya branding home industry sepatu kulit sendiri. Cita-cita itu tidak langsung terwujud. Sebelumnya Wahid beberapa kali bekerja sebagai vendor. Hingga masuk awal 2017 lalu, Wahid memberanikan diri untuk memproduksi sendiri. “Akhirnya saya memberanikan diri buka usaha sendiri,” ungkap warga Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan ini.

Awal membuka usaha olahan kulit. Produksi Wahid mayoritas sepatu boot. Pada dasarnya, dia cenderung memproduksi sepatu kulit. Proses pembuatan setidaknya membutuhkan waktu dua hari. Mulai dari membuat mal sampai sepatu punya nilai jual. “Harga sepatu mulai dari Rp 350 ribu sampain Rp 1 jutaan,” ujar owner Decraftman tersebut.

Untuk pemasaran, pria ramah ini memaksimalkan semua hal yang ada. Baik dari mulut ke mulut, maupun fanpage Facebook dan Instagram. Menurut Wahid, pemasaran dari mulut ke mulut tersebut merupakan pemasaran yang efektif. Sebab, konsumen dapat menilai langsung dari produk buatannya. Tak sedikit konsumen Wahid puas dengan hasil sepatu kulit Wahid sehingga mereka menjadi pasar potensial. “Sampai kini masih pemasaran dari mulut ke mulut masih mendominasi,” ungkapnya.

Kesabaran dan keuletan Wahid pun terbayar. Hasil karyanya kini mampu menembus pasar internasional. Singapura dan Arab Saudi menjadi negara yang biasa memesan produk-produk Wahid. Namun untuk menuju pasar internasional, dia harus mengesampingkan idealisnya untuk selalu memproduksi sepatu kulit. Untuk mengambil kesempatan itu, kini Wahid mengembangkan produknya menjadi beberapa variasi seperti sepatu, tas, tali jam, dan suvenir. “Idealis atau tidak, keduanya punya cara sendiri untuk bisa sukses,” ungkapnya. 

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia